Terkait dengan kaburnya tujuh narapidana di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sorong, Papua Barat Daya, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan atau Ditjen PAS Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan buka suara.
Rika Aprianti, selaku Kepala Bagian Humas dan Protokol Ditjen PAS Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan, tidak membantah kabar terkait kaburnya tujuh napi tersebut.

“Pihak Kanwil Ditjenpas Papua Barat sudah melakukan langkah-langkah cepat,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat, 4 April 2025, dikutip dari tempo.co.
Dilansir dari tempo.co, Rika mengatakan bahwa langkah-langkah yang telah dilakukan itu yakni berkoordinasi bersama dengan aparat keamanan.
Khususnya bersama dengan Kepolisian Daerah Papua Barat Daya serta Kepolisian Resor Kota Sorong untuk melakukan penangkapan kembali para warga binaan pemasyarakatan atau WBP yang telah melarikan diri.
Dilaporkan bahwa ada juga langkah internal yang dilakukan dengan menguatkan seluruh jajaran Lapas Sorong, dan lembaga pemasyarakatan ataupun rumah tahanan sekitar. “Sekaligus melakukan evaluasi dan upaya-upaya perbaikan,” kata Rika, dilansir dari tempo.co.
Usai kaburnya ketujuh narapidana tersebut, Kantor Wilayah atau Kanwil Direktorat Jenderal Permasyarakatan Papua Barat, saat ini tengah melakukan evaluasi kinerja dari Lembaga Permasyarakatan Kelas IIB Sorong, Papua Barat Daya.
Hensah, selaku Kepala Kantor Wilayah atau Kakanwil Ditjen PAS Papua Barat, mengungkapkan bahwa kaburnya para napi tersebut berhubungan dengan kelalaian dari pegawai lapas. Oleh karena itu, saat ini pihaknya tengah melakukan investigasi internal.
Hensah menyatakan bahwa sejumlah narapidana tersebut kabur dari Lapas Kelas IIB Sorong sehari setelah Idul Fitri atau pada tanggal 1 April 2025.
Dikabarkan bahwa ketujuh narapidana tersebut yakni AR, AO, AA, EL, YW, JJ serta TW, yang di mana salah satu diantaranya merupakan pelaku dari kasus penyerangan Pos Ramil Kisor yang terjadi pada tanggal 2 September 2021 lalu.
Hensah mengungkapkan bahwa ketujuh napi tersebut kabur melewati sebuah tembok yang sebelumnya sudah dibobol dengan menggunakan sendok makan. Dinding tersebut diketahui mudah dibobol karena sering terkena genangan air.





