Jaman Palak

Donald Trump muncul sebagai Abang Jago yang memalak siapa saja yang berani masuk ke kampung nya.Lalu China pun pasang palak nya, dan ujung ujungnya saling memalak. (Sumber Foto : DW News)
0 0
Read Time:1 Minute, 34 Second

Donald Trump muncul sebagai Abang Jago yang memalak siapa saja yang berani masuk ke kampung nya.

Lalu China pun pasang palak nya, dan ujung ujungnya saling memalak.

Ya sederhananya, orang dan barang akan makin malas melintas batas palakan.

Sinergi dunia yang tumbuh pada jaman globalisasi bubar sudah.

Kalau sinergi global sudah tak bisa diharapkan, barangkali masih bisa berharap pada sinergi kawasan regional. Atau mungkin memang Globalisasi berganti jadi Regionalisasi bebas palak. Ya kalau sekedar dana kerohiman sih wajarlah.

ASEAN sulitlah diharapkan jadi kawasan sendiri. Negara negara di dalamnya sudah punya patron nya masing masing. Tetangga bukan lah prioritas.

Indonesia gabung BRICS. Brazil jauh diujung sana. South Africa di ujung lain.

Sepertinya, China, India dan Arab lah regionalnya, China jelas sobat besar perdagangan. Jualan batu bara nikel dan sawit, lalu beli sandang pangan dan alat alat rumah tangga, juga Huawei, Oppo, dan BYD. Baguslah kalau tak saling palak, jadi rakyat bisa nikmati barang murah dari China.

Barang China jangan lah di palak palak. Kita kerja yang lain saja. Pasti masih ada peluang lain, kalau mau ikhtiar dan kreatip. Ini Negeri amat luas, penuh ikan, tanaman dan pemandangan.

Rakyat masih ada rejeki langsung dari sawit. Tapi, Batu Bara dan Nikel bukanlah bisnis rakyat. Taipan, Juragan, Majikan, Abang Jago, juga Abang Maling dapat jatah lapak duluan. Rakyat mah cuma harap harap cemas kebagian lewat APBN.

Tapi sekarang APBN lagi sibuk dengan Hutang, Bunga Hutang, Danantara, dan Koperasi Besar. Ada sih, jatah rakyat, sepuluh rebu per anak yang sekolah. Itupun baru jatah 3 juta katanya, total 10 triliun lah setahun, sementara di Pertamina colongannya 900 triliun, dan biang nya tetap bebas nikmat.

Jatah rakyat lainnya dipangkas tuntas untuk efisiensi. Itu pemborosan. Dana perlu dihemat untuk Danantara dan bayar cicilan hutang.

Semoga Barang China tak dipalak Abang Jago, biarkan masyarakat menikmati kenaikan daya beli, karena kenaikan UMR sudah teramat seret dan mungkin sebentar lagi mustahil. (Joni Lapak)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today