Penyebab Ratusan Siswa SMP di Buleleng Tidak Bisa Membaca?

Ternyata ratusan siswa SMP di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, tidak bisa membaca dengan lancar. (Sumber Foto : Kompas.com)
0 0
Read Time:1 Minute, 56 Second

Ternyata ratusan siswa SMP di Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, tidak bisa membaca dengan lancar.

Ada 363 siswa SMP di Buleleng yang memiliki kemampuan membaca rendah, menurut Putu Ariadi Pribadi, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng.

“Rinciannya, sebanyak 155 siswa masuk dalam kategori Tidak Bisa Membaca (TBM) dan 208 siswa masuk kategori Tidak Lancar Membaca (TLM),” ujar dia, saat dikonfirmasi Rabu (16/4/2025) di Buleleng.

Faktor-faktor yang berasal dari lingkungan luar termasuk dampak jangka panjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan disparitas literasi di jenjang sekolah dasar (SD). (Sumber Foto : Viva.co.id)

Ada sejumlah alasan mengapa siswa tidak bisa atau lancar membaca, menurut Ariadi. Di antaranya adalah kurangnya motivasi, pembelajaran yang tidak lengkap, disleksia, disabilitas, dan kekurangan dukungan keluarga.

Selanjutnya, faktor-faktor yang berasal dari lingkungan luar termasuk dampak jangka panjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan disparitas literasi di jenjang sekolah dasar (SD).

Selain itu, gangguan psikologis siswa disebabkan oleh pemahaman yang salah tentang kurikulum bebas, kekhawatiran guru, dan dampak lingkungan dan keluarga.

“Misalnya, siswa memiliki trauma di masa kecil akibat kekerasan rumah tangga, perceraian, atau kehilangan anggota keluarga. Atau korban perundungan,” ungkap Ariadi.

Sementara itu, I Made Sedana, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Buleleng, mengatakan bahwa fenomena siswa SMP yang tidak bisa membaca merupakan bukti bahwa siswa tidak cukup belajar.

Ia menyarankan agar sekolah melakukan pemetaan awal untuk mengetahui kebutuhan semua siswa.

“Apakah siswa tersebut berkebutuhan khusus atau bagaimana. Selain itu, pola mengajar guru juga harus dicermati, apakah sistem administrasi menyebabkan guru sibuk dan abai dalam melakukan pengajaran,” kata dia.

Dia menyatakan bahwa ratusan siswa belum mahir membaca karena berbagai alasan.

“Pertama, faktor motivasi belajar yang rendah. Kedua, peran orangtua yang tidak memerhatikan anaknya untuk belajar. Selanjutnya, faktor disleksia, yaitu gangguan pada neuron anak,” kata dia.

Dia menyatakan bahwa rendahnya motivasi belajar siswa adalah komponen yang paling penting.

Sementara itu, anak-anak dan siswa saat ini lebih suka bermain game atau bermedia sosial daripada hal-hal lain yang tidak mengedukasi.

“Dan yang lainnya itu mungkin kurikulum. Juga masuk ada di dalamnya faktor media sosial,” ungkap dia.

Menurutnya, kebiasaan bermain media sosial siswa sangat memengaruhi kemampuan mereka untuk belajar.

“Karena ada anak-anak yang lancar baca, tapi disuruh nulis dia tidak bisa. Waktu saya sodorkan handphone untuk mengetik, lancar sekali itu. Berarti ada budaya menulis yang hilang di kalangan anak muda,” sebut dia.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today