Alumni UGM akan kumpul, untuk silaturahmi, halal bi halal, juga melepas rindu. Rindu pada sesama teman, dosen, gedung dan tempat kuliah, juga segudang kenangan saat dulu menimba ilmu dan lulus dari salah satu kampus bergengsi di Indonesia.
Selain alumni, juga akan banyak aktivis dan praktisi hukum yang datang. Mereka, ada yang dari UGM, ada juga non UGM. Mereka, ingin memastikan kebenaran kabar ijazah palsu Jokowi.
Sebab, bukan hanya Bambang Tri Mulyono yang menyebut ijazah UGM Jokowi palsu. Sejumlah alumni UGM yang ekspert juga menyebut itu.
Misalnya, Rismon Hasiholan Sianipar yang alumni UGM sekaligus ahli Forensik Digital. Dia menyebut 100 milyar % ijazah Jokowi palsu. Bahkan, dia meningkatkan tingkat prosentase kepalsuan ijazah Jokowi, dengan menyebut 11.000 triliyun % ijazah Jokowi palsu.
Roy Suryo, alumni UGM, Mantan Menpora yang juga ahli telematika juga sama. Meski tak se-cetar Rismon Hasiholan Sianipar, Roy Suryo menyatakan 99,9 % ijazah Jokowi palsu. Sebenarnya, ini hanya gaya saja yang beda.
Roy Suryo mewakili kultur orang Jawa yang halus, eweuh pakewuh, unggah ungguh. Sehingga untuk meyakinkan publik ijazah Jokowi palsu dia cukup menggunakan ungkapan ‘99,9 % palsu’. Tingkat keakuratan yang nyaris sempurna.
Sedangkan Rismon Hasiholan Sianipar, mewakili karakter Sumatera yang terbiasa blak-blakan. Yang dikenal dengan semboyan ‘lebih baik berputih tulang daripada berputih mata’. Jadi, dengan penuh keyakinan Rismon Hasiholan Sianipar menyatakan 11.000 triliyun % ijazah Jokowi palsu.
Agar UGM tidak grogi, perlu persiapan maksimal untuk menghadapi tamu. Persiapan itu, diantaranya sebagai berikut:
Pertama, sediakan penganan meskipun ala kadarnya. Karena, bagaimana pun suasana masih Syawal, masih lebaran.
Sejumlah kue dan roti yang ada di lemari, di keluarkan. Terima dan sapa tamu-tamu dengan ramah.
Kedua, sediakan sejumlah meja data verifikasi. Agar para tamu bisa mengecek data ijazah Jokowi. Agar RISMON dan Roy Suryo terbungkam. Karena data-data yang dimiliki UGM valid.
Jangan hanya menjejer-kan Ova Emilia dan Sigit Sunarta untuk membuat testimoni berulang, seperti tukang jamu. Yang dibutuhkan data dan bukti saintifik, bukan keterangan berulang yang menjemukan.
Ketiga, buat pengakuan dosa dan tobat nasional, jika meja data verifikasi tidak dapat disediakan. Sebab, jangan sampai UGM sibuk membela ijazah palsu Jokowi tanpa basis data dan ilmu. UGM itu Lembaga akademik, bukan lapak jualan jamu (tukang obat).
Dengan pengakuan dosa dan pernyataan tobat nasional, UGM akan menyelamatkan legacy dari noda hitam pekat ijazah palsu Jokowi.
Jangan mau, UGM dijadikan tisu, untuk nyebokin kotoran ijazah palsu Jokowi. Lebih baik kehilangan Jokowi, ketimbang kehilangan reputasi UGM. Dan alumni, akan bangga pada UGM saat UGM berani tobat dan mengumumkan permohonan maaf kepada publik. (Ahmad Khozinudin)






