Dokter Biadab

Mereka seringkali membentuk opini publik yang tidak sesuai dengan kenyataan, yang cenderung berpotensi menyesatkan. (Sumber Foto : kompas.com)
0 0
Read Time:1 Minute, 46 Second

Cobalah untuk memperhatikan judul-judul berita media yang marak kita temui beberapa terakhir ini.

“Keji, dan Biadab. Dokter Cabuli Pasien”

“Marak, Tindakan Tak Bermoral oleh Dokter”

Judul-judul seperti ini begitu bombastis dan berlebihan. Media seolah-olah memanfaatkan setiap momen untuk menarik perhatian publik. Mereka lebih mengutamakan rating dan sensasi daripada memberikan informasi yang seimbang.

Lewat istilah-istilah dan judul bombastis, mereka seringkali membentuk opini publik yang tidak sesuai dengan kenyataan, yang cenderung berpotensi menyesatkan. Membentuk opini publik yang over-estimate.

Sekarang, mari kita coba bandingkan dengan isu besar seperti korupsi.

Dalam pandangan saya, tindakan korupsi juga biadab dan tak bermoral. Kolateral damagenya jauh lebih luas dan merusak.

Para koruptor tidak hanya mencuri uang, tetapi mereka merampas masa depan bangsa dengan menghisap perekonomian negara dan menghancurkan sumber kehidupan rakyat.

Mereka mengorbankan kesejahteraan banyak orang demi keuntungan pribadi mereka. Koruptor adalah kanibal ekonomi, mereka adalah perusak kehidupan yang sesungguhnya.

Namun, pertanyaannya adalah, di mana kata-kata keras untuk para koruptor? Mengapa kita tidak pernah mendengar ungkapan seperti ‘Biadab’ atau ‘Bejat’ ditujukan kepada mereka? Kenapa kita tidak mendengar doa-doa dari para pemimpin agama yang dengan lantang mengucapkan, “Ya Tuhan, hancurkanlah para koruptor dan berikanlah balasan setimpal kepada mereka dan keturunan mereka atas setiap rupiah yang mereka curi.

Benamkanlah mereka dalam kehinaan yang tak teratasi hingga mereka menemuiMu, Ya Allah.” Mana penghukuman keras buat koruptor? Kenyataannya, mereka malah sering diperlakukan dengan senyum dan rasa hormat, seolah tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

Kita sering kali begitu pragmatis dalam menghadapi hal-hal seperti ini. Kasus individu, meski sifatnya kasuistik dan dilakukan oleh segelintir oknum, sering diteropong sebagai masalah sangat besar dan marak.

Over-generalisasi padahal, di luar sana ada ratusan ribu dokter yang bekerja dengan sepenuh hati, yang menjaga martabat dan integritas profesinya.

Sementara itu, korupsi telah meresap dalam budaya kita, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang sulit untuk dibasmi. Korupsi bukan lagi sekadar kasus, tetapi sebuah kebiasaan yang sudah mendarah daging.

Jika kita tidak malu untuk menyoroti tindakan keji yang dilakukan oleh segelintir oknum, mengapa kita begitu santun terhadap tindakan korupsi yang merusak bangsa?

Sebuah refleksi yang seharusnya membuat kita semua merenung. (Iqbal Mochtar)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today