Dilaporkan bahwa telah terjadi serangan peretasan terhadap sejumlah lembaga besar Kementerian Pertahanan Israel, di antara konflik Iran dan Israel yang saat ini tengah memanas.
Berdasarkan informasi yang diunggah oleh akun @ben3atha di media sosial X, terdapat sejumlah file rahasia, meliputi peta militer serta sistem sensitif yang dibocorkan ke publik.
Di dalam unggahan tersebut, Ben mengungkapkan bahwa terdapat sekelompok peretas atau hacktivist pro-Palestina yang menamai diri mereka sebagai “Handala Hack”, yang di mana kelompok tersebut berbasis di Iran.

Dilansir dari technologue.id, nama kelompok tersebut dikenal karena telah melakukan penyerangan siber pada sejumlah target di Israel, khususnya institusi pemerintah, militer, serta infrastruktur penting.
Sebelum menghilang, Handala sempat melancarkan serangan terakhir mereka pada bulan Februari 2025, yang menyasar ke institusi kepolisian Israel.
Namun, setelah beberapa bulan menghilang, kini mereka kembali lagi dengan mengunggah sebuah video berdurasi 2 menit, yang di mana berisikan terkait pengenalan logo baru serta klaim bahwa mereka sudah melancarkan 3 operasi peretasan besar.
Menurut informasi yang dikutip dari technologue.id, pada operasi pertama, kelompok tersebut berhasil melakukan peretasan terhadap dua perusahaan penyedia sistem bahan bakar, yakni Delekol dan Delek.
Dalam peretasan tersebut, mereka mengunggah sebuah video pesan bertuliskan, “Sistem bahan bakar kalian sudah terbuka. Lebih dari 2 Terabyte data bukan milik kalian lagi. SPBU kalian terancam. Kalau pintar, ambil langkah sekarang. Isi bahan bakar segera… sebelum jalanan kosong dan jet kalian lumpuh,” demikian bunyi pernyataan tersebut, dikutip dari akun X @ben3atha, dalam laman technologue.id.
Kemudian, pada serangan operasi kedua, kelompok ini membidik sebuah perusahaan yang dijuluki sebagai “tangan rahasia” Kementerian Pertahanan Israel, yaitu YG New Idan Ltd.
Mereka kembali mengirim pesan yang bertuliskan, “Inilah entitas yang merancang dan membangun basis militer kalian. Kini semua yang kalian sembunyikan jadi milik kami. 339GB data rahasia sudah kami kuasai,” seperti yang diunggah dalam akun X @ben3atha, dilansir dari technologue.id.
Lalu, Operasi Ketiga diketahui menjadi salah satu serangan penting yang dapat berpengaruh terhadap konflik ini, yang di mana mereka meretas perusahaan Aerodreams, yang diduga ikut andil dalam program drone rahasia, pelatihan pilot elite, serta logistik militer rahasia.
“400GB data internal sudah ada di tangan kami, dan sebentar lagi akan dilihat semua orang,” klaim para hacktivist, dalam unggahan di X @ben3atha, dikutip dari technologue.id.
Dikabarkan bahwa berdasarkan analisis awal dari kebocoran perusahaan Aerodreams, yakni mereka telah berhasil membongkar struktur udara serta militer milik Israel, yang di mana salah satunya yaitu peta CVFR atau Controlled Visual Flight Rules wilayah udara Israel utara.
Di dalam peta tersebut, memperlihatkan sejumlah rute penerbangan sipil serta militer, dan juga lokasi bandar udara.
Tidak hanya peta saja, para hacktivist Handala juga diketahui telah berhasil melakukan pembongkaran terhadap identitas diplomat yang menjadi perantara perusahaan serta bekerja untuk Kementerian Luar Negeri Israel, dan juga misi diplomatik di luar negeri.






