Setelah serangan jet pengebom AS terhadap situs nuklir Iran, Presiden AS Donald Trump tidak setuju dengan wakilnya, JD Vance.
Sebelumnya, Trump mengklaim serangan militer dan gencatan senjata Israel-Iran berhasil, tetapi dia mengecam laporan media yang meragukan keberhasilan serangan tersebut.
Ia menyatakan bahwa laporan rahasia yang menyesatkan publik tentang kerusakan fasilitas nuklir Iran telah tersebar luas.

“Berita palsu CNN, bersama dengan New York Times yang gagal, telah bekerja sama dalam upaya untuk mengkerdilkan salah satu serangan militer paling berhasil dalam sejarah,” tulis Trump di media sosial miliknya, Truth Social.
Ia kemudian menyatakan bahwa situs nuklir Iran hancur sepenuhnya, menurut BBC.
Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih, menyatakan bahwa kebocoran laporan rahasia tersebut merupakan upaya yang jelas untuk menghilangkan kredibilitas Trump dan para pilot tempur yang telah menyelesaikan misi mereka.
“Kebocoran penilaian yang dituduhkan ini merupakan upaya yang jelas untuk merendahkan Presiden Trump, dan mendiskreditkan pilot pesawat tempur pemberani yang melakukan misi yang dieksekusi dengan sempurna untuk meluluhlantakkan program nuklir Iran,” tulis Leavitt melalui akun X.
“Semua orang tahu apa yang terjadi ketika Anda menjatuhkan 14 bom seberat 13,6 ton dengan sempurna pada target mereka, pemusnahan total,” ujarnya, dikutip dari AFP pada Rabu (25/6/2025).
Tampaknya Vance ragu.
Namun, dalam wawancara dengan program This Week di ABC News pada hari Minggu, 23 Juni 2025, Wakil Presiden AS JD Vance tampak ragu saat berbicara tentang nuklir Iran.
Meskipun dia tidak dapat memastikan status uranium, dia menyatakan bahwa Pemerintah AS akan membahas masalah ini dengan Iran dalam waktu dekat.
“Kami akan bekerja dalam beberapa minggu mendatang untuk memastikan kami melakukan sesuatu dengan bahan-bahan itu,” ujar Vance, dikutip dari kantor berita AFP.
Kemudian, ketika ditanya lagi tentang apakah stok uranium yang diperkaya Iran telah dihancurkan, ia menjawab dengan nada yang sama: “Itu salah satu hal yang akan kami bicarakan dengan Iran.”
Menurut laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), badan pengawas nuklir PBB, uranium Iran mencapai 400 kilogram dan telah diperkaya hingga 60 persen. Ini melebihi standar penggunaan sipil, tetapi masih belum mencapai 90 persen untuk tingkat senjata.
Rafael Grossi, kepala IAEA, mengatakan saat perang Iran-Israel dimulai, pihaknya kehilangan visibilitas atas material tersebut.
“Saya tidak ingin memberi kesan bahwa itu sudah lenyap atau disembunyikan,” ujar Grossi dalam wawancara dengan stasiun televisi France 2.
Serangan Amerika Serikat ke instalasi nuklir Iran
Sementara itu, militer AS mengklaim telah menembakkan 14 bom penghancur bunker GBU-57, senjata seberat 13,6 ton, di tiga lokasi nuklir Iran. Trump mengklaim serangan itu berhasil menghancurkan situs nuklir utama Iran, termasuk kompleks Fordo di dalam pegunungan.
Namun, laporan intelijen AS yang pertama kali bocor di CNN menunjukkan hal yang sebaliknya. Disebutkan bahwa struktur utama lokasi tidak hancur, dan bahwa rencana nuklir Iran hanya akan berlangsung beberapa bulan lagi.
Trump merespons dengan keras. Dengan menggunakan platform Truth Social, ia mengecam reporter yang melaporkan laporan tersebut di CNN dan menuntut pemecatan reporter tersebut.
Selain itu, ia mengumumkan bahwa Pete Hegseth, Menteri Pertahanan AS—yang disebut Trump sebagai “menteri perang” akan mengadakan konferensi pers pada Kamis, 26 Juni 2025, pukul 08.00.
Dalam pernyataan resmi, ia menyatakan bahwa informasi terbaru dari sumber yang dapat dipercaya menunjukkan bahwa banyak fasilitas nuklir penting Iran hancur dan akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun kembali.
Pemerintah Iran sendiri mengakui bahwa situs nuklir mereka mengalami kerusakan yang signifikan. Namun, laporan IAEA, yang menjadi dasar serangan AS dan Israel, menyatakan bahwa tidak ada bukti bahwa Teheran sedang membuat bom nuklir, meskipun Iran tidak mematuhi kewajiban nuklirnya.





