Produksi Baterai Listrik 30% RI-China Akan Diekspor ke Amerika Serikat dan Eropa

(IBC), mengatakan bahwa setengah dari produksi megaproyek ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) konsorsium Indonesia-China akan diekspor. (Sumber Foto : Kumparan.com)
0 0
Read Time:2 Minute, 16 Second

Toto Nugroho, Direktur Utama PT Indonesia Battery Corporation (IBC), mengatakan bahwa setengah dari produksi megaproyek ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) konsorsium Indonesia-China akan diekspor.

Toto mengatakan bahwa proyek baru ini sudah memiliki pembeli atau offtaker di pasar domestik dan internasional.

Namun, karena masih dalam proses penandatanganan dengan konsorsium China, dia tidak dapat menunjukkan perusahaan mana yang akan membeli baterai dari Indonesia.

PT Aneka Tambang Tbk (Antam), IBC, dan Konsorsium CATL Brunp dan Lygned (CBL), anak perusahaan Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), bertanggung jawab atas pengembangan industri baterai dari hulu ke hilir.

“Sudah ada beberapa offtaker langsung, banyak yang ada di Indonesia, ada juga untuk yang pasar untuk ekspor. Namanya belum bisa keluar karena masih perjanjian dengan CATL,” ungkap Toto saat ditemui di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH) Karawang, dikutip Senin (30/6).

Toto menjelaskan bahwa Jepang, India, dan Amerika Serikat adalah negara-negara asal perusahaan yang ingin membeli baterai dari proyek tersebut. Selain itu, dia membuka peluang untuk diekspor ke Eropa, meskipun saat ini Eropa sudah memenuhi kebutuhannya sendiri.

Toto mengatakan bahwa proyek baru ini sudah memiliki pembe li atau offtaker di pasar domestik dan internasional. (Sumber Foto : Kumparan.com)

“Kalau kondisi sekarang, saya rasa yang paling bisa itu terutama untuk ekspor ya Amerika, Southeast Asia, sebagian dari India. Kalau Eropa, karena mereka sudah punya kapasitas Eropa cukup besar. Afrika belum,” jelasnya.

Pada tahap awal, pabrik tersebut akan memproduksi 6,9 GWh baterai pada tahun 2026. Pada tahun 2028, kapasitas penuhnya akan mencapai 15 GWh.

Toto mengatakan bahwa tiga puluh persen dari penjualan total berasal dari ekspor, sementara tujuh puluh persen alias sebagian besar diproduksi di dalam negeri. Produknya mencakup sistem penyimpanan energi baterai (BESS) untuk pembangkit intermitten dan baterai kendaraan listrik (EV).

“Kalau kita lihat dengan kondisi yang sekarang, diekspor sekitar 30an persen lah. Tapi nanti pasti berubah-ubah tahun-tahun. 30 persen ekspor, sisanya untuk domestik,” tutur Toto.

Toto juga menjelaskan bahwa karena tensi perang dagang telah mereda, produksi proyek investasi China ini dapat masuk ke pasar AS.

Dia juga berharap sektor perdagangan mengikuti politik bebas aktif Indonesia.

Presiden AS Donald Trump mencapai kesepakatan untuk menurunkan tarif impor dengan China menjadi 55%. Selain itu, China adalah pemasok mineral tanah jarang yang penting bagi industri otomotif Amerika Serikat.

“Trump kan sekarang udah mulai tidak seperti sebelumnya. Jadi yang kita inginkan dari Indonesia itu, kita ekspor ke China bisa, ke Amerika bisa, ke Eropa bisa. Nah itu harapan dari kita,” kata Toto.

Sebaliknya, Toto percaya bahwa penggunaan kendaraan listrik sudah mulai masif di seluruh dunia, termasuk di China, AS, Eropa, bahkan Timur Tengah. Mereka bergantung pada bahan baku yang berasal dari Indonesia.

“Nah yang ada nikel itu adalah Indonesia. Jadi itu yang tugas negara kita untuk bisa meningkatkan konsumsi,” imbuhnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today