Sepanjang tahun 2025, militer Israel mengalami peningkatan kasus bunuh diri. Investigasi internal menemukan bahwa trauma dari perang selama operasi militer di Jalur Gaza memengaruhi sebagian besar kasus tersebut.
Sejak awal tahun ini, setidaknya 16 tentara Israel telah bunuh diri, menurut laporan KAN, lembaga penyiaran publik Israel.
Setiap kasus diselidiki secara menyeluruh, dengan wawancara dengan anggota keluarga dan rekan korban dan pemeriksaan catatan perpisahan.
“Sebagian besar bunuh diri ini merupakan akibat dari realitas kompleks yang diciptakan oleh perang di Gaza. Perang memiliki konsekuensi,” ujar seorang pejabat senior militer Israel, sebagaimana diberitakan Anadolu Agency.
Dalam dua tahun terakhir, militer Israel menunjukkan peningkatan yang konsisten. Kasus bunuh diri meningkat menjadi 21 pada tahun 2024 dari 17 kasus pada tahun 2023.
Selain itu, sejak awal operasi militer, sekitar 3.770 tentara telah didiagnosis menderita gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Dari sekitar 19.000 tentara yang terluka selama konflik, hampir 10.000 di antaranya dirawat di pusat rehabilitasi Kementerian Pertahanan Israel.
Sejak 7 Oktober 2023, serangan Israel di Gaza telah mengganggu warga sipil Palestina dan pasukan militernya. Sebaliknya, negara-negara di seluruh dunia terus menempatkan Israel di bawah tekanan.

Serangan militer yang terus-menerus membunuh lebih dari 60.400 warga Palestina, dengan mayoritas korban wanita dan anak-anak.
Pada November 2024, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant menerima surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Dua orang didakwa atas tuduhan melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga dihadapkan pada gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) karena operasi militernya di wilayah kantong tersebut.
Pemerintah Israel belum menanggapi seruan internasional untuk gencatan senjata hingga saat ini.





