Mengenal Sejarah Museum Sumpah Pemuda, Saksi Bisu Perjuangan Para Pemuda Indonesia

Museum Sumpah Pemuda, sebuah bangunan bersejarah bagi rakyat Indonesia. (Source: Ilustrasi/Detik.com)
0 0
Read Time:1 Minute, 38 Second

Museum Sumpah Pemuda, sebuah bangunan bersejarah bagi rakyat Indonesia yang lokasinya berada di Jalan Kramat Raya No. 106.

Museum Sumpah Pemuda juga dikenal sebagai sebuah bangunan yang menjadi tempat serta saksi bisu ketika para pemuda yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia mengucapkan ikrarnya pada tanggal 28 Oktober 1928.

Mengutip Tempo.co, awalnya Museum Sumpah Pemuda adalah sebuah rumah kos yang dimiliki oleh salah seorang tokoh Tionghoa bernama Sie Kong Liong.

Saksi bisu tempat para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia mengucapkan ikrarnya pada tanggal 28 Oktober 1928. (Source: Ilustrasi/Tribunnews.com/IG @museumsumpahpemuda)

Rumah kos tersebut kerap disewa dan dijadikan sebagai tempat tinggal serta tempat untuk belajar ataupun berdiskusi oleh para pelajar dari School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) dan Rechts Hooge School (RHS), menurut informasi dari Rumah Kebangsaan Pancasila.

Rumah kos ini awalnya hanya disewa dan ditempati oleh para pelajar yang berasal dari pulau Jawa saja, namun seiring berjalannya waktu, rumah tersebut juga kerap dijadikan sebagai berkumpulnya para pemuda dari sejumlah daerah, suku, dan ras di seluruh Indonesia, yang kemudian melahirkan semangat persatuan yang menjadi fondasi dari terbentuknya Sumpah Pemuda.

Dikenal sebagai Indonesische Clubgebouw, bangunan yang berlokasi di Jalan Kramat Raya No. 106 ini menjadi tempat berkumpulnya sejumlah organisasi pemuda yang berasal dari berbagai daerah, seperti Jong Java, Jong Sumatera, serta Jong Ambon.

Bangunan inilah yang nantinya menjadi lokasi dilaksanakannya Kongres Pemuda II pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928, sebagai saksi bisu lahirnya ikrar bersejarah “bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu: Indonesia.”

Dinukil dari Tempo.co, dalam momen yang sama, lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya diperdengarkan oleh Wage Rudolf Supratman, dengan menggunakan iringan biola tanpa lirik karena terdapat larangan penggunaan kata “merdeka”.

Diketahui bahwa saat ini, Museum Sumpah Pemuda dijadikan sebagai pusat edukasi sejarah serta kebudayaan, yang mana di dalamnya terdapat beragam koleksi bersejarah yang masih tersimpan dengan rapih, seperti biola asli WR Supratman, rekaman pertama lagu “Indonesia Raya” oleh Yo Kim Tjan, hingga dokumentasi serta artefak pergerakan pemuda.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today