Kementerian LH Mengidentifikasi Faktor Urbanisasi sebagai Penyebab Longsor Cisarua

Perubahan tata guna lahan di sekitar area longsor Cisarua di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. (Sumber Foto : Kompas.com)
0 0
Read Time:2 Minute, 6 Second

Menurut Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Lingkungan Hidup (LH), perubahan tata guna lahan di sekitar area longsor Cisarua di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, merupakan bagian dari urbanisasi.

Untuk mencegah peristiwa serupa terjadi di masa depan, pendekatan saintifik sangat penting. (Sumber Foto : Metrotv.news)

“Sebenarnya ini aspek dari urbanisasi yang cukup masif di kota-kota sehingga membawa perubahan pola makan yang bukan kebiasaan kita, seperti kentang, kol, paprika, itu semua di daerah subtropis,” kata Hanif, dilansir dari Antara, Senin (26/1/2026).

Menteri LH menyatakan bahwa faktor urbanisasi adalah penyebab longsor Cisarua.

KLH akan mengirimkan tim spesialis untuk melakukan penyelidikan mendalam

Hanif menjelaskan bahwa tanaman subtropis biasanya tumbuh di ketinggian 800–2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), tetapi karakteristiknya berbeda-beda menurut daerah.

“Kita sebenarnya karakternya tidak seperti itu. Tahun 2025 dulu tidak semasif ini sehingga ini membawa dampak pertanian naik ke gunung dan membuka lahan pertanian seperti ini,” ucap dia. 

Sejauh yang saya ketahui, longsor tersebut terjadi pada hari Sabtu, 24 Januari 2026. Sebagaimana dilaporkan oleh Kompas.com pada Senin (26/1/2026), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jawa Barat menyatakan bahwa 10 orang telah meninggal dunia dan 82 orang masih dalam pencarian.

Hanif mengatakan bahwa pihaknya akan mengirimkan tim profesional untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap kondisi lingkungan setelah bencana.

Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa pemerintah memiliki pemahaman yang lengkap tentang sumber longsor serta risiko lanjutan yang mungkin muncul.

Kajian dilakukan dengan teliti

Tim ahli yang dikirim oleh Kementerian Lingkungan Hidup akan menganalisis lanskap seluruh wilayah yang terdampak, bukan hanya titik longsor.

Hanif menyatakan bahwa kajian akan memasukkan kondisi tanah, flora, dan kemungkinan bencana berikutnya.

Agar mitigasi dapat dilakukan dengan benar, semua data akan diperiksa secara ilmiah. Diharapkan bahwa penelitian ini dapat memberikan gambaran yang akurat tentang daya dukung lingkungan.

Akibatnya, tindakan penanganan tidak hanya reaktif tetapi juga preventif. Untuk mencegah peristiwa serupa terjadi di masa depan, pendekatan saintifik sangat penting.

Kementerian LH memastikan bahwa penelitian tidak dilakukan secara terburu-buru dan bahwa tim ahli akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan benar-benar akurat.

Dengan demikian, tim akan segera bergabung dengan pemerintah kabupaten, dipimpin oleh bupati setempat.

Untuk memastikan bahwa kebijakan yang dibuat oleh pusat dan daerah sesuai satu sama lain, kerja sama ini sangat penting.

“Kita akan melakukan pendalaman sangat detil terhadap landscape ini, dan kemudian akan dilakukan langkah-langkah penanganan lebih lanjut,” kata Hanif.

“Kami mungkin perlu waktu satu-dua minggu untuk menyelesaikan kajian detil bersama para ahli dari akademisi, dari badan riset dan lain-lain,” tambah dia. 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today