Anggota DPR: Potret Buram Hak Dasar Pendidikan, Siswa SD Di NTT Diduga Bunuh Diri

Habib Syarief, anggota Komisi X DPR RI, menggambarkan kasus kematian siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT). (Sumber Foto : Istock)
0 0
Read Time:2 Minute, 22 Second

Habib Syarief, anggota Komisi X DPR RI, menggambarkan kasus kematian siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai contoh buruk bagaimana hak dasar anak di pendidikan dipenuhi.

Ini disampaikan oleh Syarief sebagai tanggapan atas kasus dugaan bunuh diri seorang siswa karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis.

“Peristiwa tersebut merupakan potret buram dunia pendidikan nasional yang menunjukkan masih adanya celah besar dalam pemenuhan hak dasar belajar bagi anak dari keluarga kurang mampu,” ujar Syarief dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/2/2026).

Anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang dialokasikan untuk bantuan sosial dan pendidikan sangat besar, kata Syarief.

Akibatnya, pemerintah seharusnya dapat membayar kebutuhan sekolah dasar siswa.

“Karena sepengetahuan kami anggaran pendidikan dari APBN itu besar, harusnya kebutuhan dasar pendidikan seperti buku dan alat tulis bisa terpenuhi,” kata Syarief.

Selain itu, politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini meminta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menyelidiki kemungkinan kelalaian dalam penyediaan bantuan pendidikan.

“Pengusutan ini penting agar negara tidak abai. Kita perlu memastikan apakah bantuan pendidikan sudah tepat sasaran dan apakah ada pendampingan bagi anak-anak yang mengalami tekanan berat akibat kemiskinan,” kata Syarief.

Syarief menambahkan bahwa pemerintah juga harus mengevaluasi situasi ekonomi siswa di NTT dan daerah lain, serta memperkuat program bantuan perlengkapan sekolah gratis.

“Serta peningkatan peran guru dalam memantau kondisi psikologis peserta didik. Jangan sampai kita kehilangan generasi hanya karena kemiskinan dan kelalaian sistem,” kata Syarief.

“Kami sangat prihatin. Kasus ini menjadi alarm keras bahwa masih ada anak-anak kita yang tidak mendapatkan kebutuhan belajar paling mendasar. Ini tidak boleh dibiarkan. Negara harus hadir memastikan kebutuhan dasar pendidikan terpenuhi tanpa kecuali,” imbuh dia.

Siswa SD bunuh diri

Menurut artikel Kompas.id berjudul “Anak SD Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Tamparan bagi Negara”, kematian YBS (10) dianggap sebagai tragedi kemanusiaan.

Siswa yang berada di kelas empat sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, sangat putus asa dengan kondisinya saat ini.

Kasus dugaan bunuh diri seorang siswa karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis. (Sumber Foto : Inilahjateng.com)

Ibunya MGT (47) menolak untuk memberikan uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000 ketika dia meminta bantuan. Dia menjawab, “Mereka tidak punya uang.”

Mendapatkan uang kecil itu memang sulit bagi keluarga mereka, masyarakat miskin sulit mendapatkan uang sebesar Rp 10.000.

MGT berkebun dan bekerja sebagai buruh serabutan. Dia adalah janda dan ibu dari lima anak.

Korban bahkan diminta tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok untuk meringankan beban MGT.

Korban mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di dahan pohon cengkih tak jauh dari pondok.

Kontak untuk bantuan

Seseorang yang mengalami depresi dan tidak memiliki orang lain untuk membantunya dapat melakukan bunuh diri.

Jika Anda menghadapi masalah serupa, jangan menyerah dan mengakhiri hidup.

Anda tidak sendiri; Anda dapat menggunakan layanan konseling sebagai pilihan untuk meringankan keresahan yang saat ini Anda alami.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today