Sebanyak 1.600 sapi perah impor yang berasal dari Australia menuju ke Probolinggo, Jawa Timur, dipastikan Badan Karantina Indonesia aman dari berbagai macam penyakit berbahaya.
“Selama kurang lebih 14 hari ke depan, seluruh sapi perah ini berada di dalam Instalasi Karantina Hewan di Probolinggo,” kata Direktur Tindakan Karantina Hewan Cicik Sri Sukarsih dalam keterangan tertulis, Minggu, 29 Juni 2025, dikutip dari tempo.co.

Cicik mengungkapkan bahwa proses karantina tersebut baru bisa dikatakan selesai pada saat setelah kondisi dari sejumlah sapi itu dinyatakan sehat oleh dokter hewan karantina.
Dilansir dari tempo.co, Prosesi karantina sejumlah sapi tersebut diestimasikan Cicik bakal selesai pada pertengahan bulan Juli 2025.
Sejumlah sapi hidup yang diimpor dari Australia itu adalah bagian dari program peningkatan produksi susu dan daging nasional atau P2SDN.
Dalam program tersebut, pemerintah bekerja sama dengan seluruh pihak terkait, meliputi di antaranya adalah swasta, untuk menyediakan sebanyak 1 juta ekor sapi perah dalam lima tahun ke depan yang dimulai dari tahun 2025.
Dikabarkan bahwa dalam proses karantina sejumlah sapi itu, Badan Karantina Indonesia bakal melaksanakan analisis risiko, pemeriksaan fisik, serta uji laboratorium yang akan dilakukan di Instalasi karantina hewan.
Hal tersebut dilakukan agar kesehatan dari seluruh sapi perah impor yang nantinya bakal dikirim ke Probolinggo itu dapat terjamin.
Cicik menjelaskan bahwa menurut protokol karantina hewan, sejumlah jenis penyakit yang menjadi target dalam pemeriksaan serta harus dipastikan agar tidak menginfeksi sapi perah impor yaitu penyakit mulut kuku (PMK), Lumpy Skin Diesease (LSD), Keluron Menular (Brucellosis), Bovine Viral Diarhea (BVD), Enzootic Bovine Luekosis (EBL), dan Paratuberkulosis.





