Produsen kendaraan listrik asal Tiongkok, BYD, pada Rabu mengumumkan komitmen keamanan bagi pengguna sistem bantuan mengemudi mandiri yang dikembangkan sendiri, dikenal sebagai “God’s Eye”. Sistem ini digunakan dalam skenario parkir cerdas di China. BYD menyatakan bahwa bila terjadi kerugian pada kendaraan saat parkir otomatis, perusahaan siap bertanggung jawab penuh, bahkan tanpa melalui proses klaim asuransi.
Menurut pernyataan resmi BYD, kemampuan parkir cerdas ini setara dengan Level 4 otonomi—artinya pengemudi dapat melepaskan tangan, pandangan, dan konsentrasi saat kendaraan melakukan parkir otomatis di kondisi tertentu. Dengan demikian, jika terjadi insiden atau kerusakan, tanggung jawab jatuh pada produsen, bukan pengguna.

Dalam implementasinya, pelanggan yang mengalami masalah tak perlu repot mengurus klaim ke perusahaan asuransi. Mereka cukup menghubungi tim layanan purna jual BYD, yang kemudian akan langsung menangani kerusakan maupun kehilangan akibat penggunaan God’s Eye . Ini merupakan langkah luar biasa yang menunjukkan kepercayaan tinggi BYD terhadap teknologi asisten mengemudinya.
God’s Eye adalah sistem bantuan mengemudi canggih (ADAS) milik BYD yang memiliki tiga versi: A (Level 3), B, dan C (Level 2+). Semua model kendaraan BYD, mulai dari kelas premium hingga model ekonomis, telah dilengkapi teknologi ini. Versi C, misalnya, menggunakan sensor seperti radar ultrasonik dan 12 kamera untuk fitur otomatis seperti parkir jarak jauh, pengereman darurat, dan navigasi saat parkir. Versi A, yang mampu mengemudi mandiri di jalan raya dan kota, dirancang untuk digunakan pada model mewah.

Pernyataan ini muncul di tengah momentum meningkatnya regulasi keselamatan kendaraan otonom di China. Pemerintah setempat menuntut pengembang teknologi seperti BYD dan Huawei agar bertindak cepat namun bertanggung jawab dalam implementasi sistem ini. Sejumlah produsen mobil kini berkewajiban menanggung kerusakan akibat kegagalan sistem ketika kendaraannya dalam mode otomatis, sebuah regulasi yang juga diadopsi di beberapa negara Barat .
Langkah BYD ini dipandang sebagai terobosan dalam industri otomotif otonom: pabrikan tidak hanya menjual teknologi, tetapi juga menjamin performanya dan menanggung konsekuensi jika terjadi kesalahan. Hal ini membangun kepercayaan publik terhadap sistem parkir cerdas dan memberikan jaminan tambahan bagi penggunanya.

Secara strategis, klaim tanggung jawab ini mempertegas posisi BYD sebagai pemimpin teknologi mobil otonom di antara sesama produsen Tiongkok. Hal ini sejalan dengan visi perusahaan untuk mengedemokratisasi teknologi canggih dan membuatnya tersedia bagi khalayak luas—bukan hanya untuk kendaraan mahal .
Ke depan, sukses atau tidaknya strategi ini akan teruji melalui adopsi lebih luas dari sistem God’s Eye dan sejauh mana BYD mampu menyeimbangkan inovasi teknologi dengan tanggung jawab hukum dan reputasi. Apabila berjalan mulus, model tanggung jawab semacam ini bisa menjadi standar baru dalam industri kendaraan otonom di China dan dunia.






