Ratusan siswa di beberapa sekolah di Kapanewon Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, terkena keracunan massal. Kasus ini sedang diselidiki oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo.
Menurut penyelidikan awal, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) adalah sumber makanan yang dikonsumsi secara bersamaan oleh para korban.
“Kalau ada satu kejadian dengan gejala yang sama dan jumlahnya banyak, itu masuk kategori luar biasa. Karena gejalanya muntah dan diare, maka yang kami cari pertama adalah makanan yang dikonsumsi korban,” kata Kepala Dinkes Kulon Progo, Sri Budi Utami, belum lama ini.
Kasus muncul setelah ratusan siswa di SMP Negeri 3 Wates di Kalurahan Sogan dan SMP Muhammadiyah 2 Wates di Bendungan mengalami gejala muntah dan diare pada hari Rabu malam 30 Juli 2025 hingga Kamis siang.
Sampai Jumat sore, 8 Januari 2025, Dinkes Kulon Progo mencatat dua kasus baru dari dua sekolah dasar. Mereka adalah SD di Kalurahan Triharjo dan SD di Sogan. Sekarang ada sekitar 400 anak yang mengalami gangguan pencernaan.

Tim laboratorium Dinkes mengumpulkan sampel dari makanan, muntahan, dan feses korban. Pada Kamis, 31 Juli 2025, semua sampel dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) di Yogyakarta.
Karena metode kultur digunakan untuk mengidentifikasi pertumbuhan bakteri, hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan baru akan keluar dalam waktu dua minggu.
“Hasil dari BLKK kurang lebih 2 minggu. Butuh waktu selama itu, karena metode yang dipakai adalah dengan cara kultur atau menumbuhkan kuman, di mana kuman atau bakteri dapat dilihat pertumbuhannya minimal dua minggu,” jelas Sri Budi melalui pesan singkat.
Tiga sampel dari makanan yang diuji berasal dari SPPG: ayam lada hitam, tahu goreng krispi, sayur tumis, buah semangka, dan nasi putih dan abon ayam.
Jika jenis bakteri yang sama ditemukan di makanan dan sampel biologis korban, hipotesis bahwa makanan tersebut adalah sumber utama keracunan akan semakin kuat.





