Pemerintah memperhatikan aplikasi permainan Roblox sentral karena mengandung efek negatif terhadap anak-anak. Mendiktasmen Abdul Mu’ti bahkan menyatakan bahwa permainan itu mengandung kekerasan sehingga membuat anak pemalas.
Psikolog anak Mira Amir dari Universitas Indonesia percaya bahwa Roblox dan permainan serupa dapat mendorong anak-anak untuk melakukan kejahatan.
Salah satu contohnya adalah anak mencuri karena ingin membeli item permainan berbayar.
“Kalau di Roblox ada peluang untuk itu (membeli item berbayar) ya bisa ada kemungkinan anak terjerumus ke perilaku mencuri karena ada kebutuhan,” ucap dia saat dihubungi, Rabu (6/8).
Mira juga mengatakan bahwa permainan di ponsel seperti Roblox dapat menyebabkan anak susah fokus saat belajar.
“(Game berpengaruh) pada kemampuan anak belajar ya. Rentang perhatian jadi pendek, baca buku adalah tugas yang amat sangat sulit gitu. Udahlah anaknya nggak bisa baca ya kan, kebanyakan depan layar,” ucap dia.
“Itu rentang atensi itu, kemampuan untuk jaga fokus, itu jadi rendah,” tambahnya.

Di dalam permainan seperti Roblox ini, Mira juga menekankan kebebasan berkomunikasi antar pemain. Dia berpendapat bahwa anak mungkin bertemu dengan orang dewasa yang tidak dikenalnya.
“Dikhawatirkan juga ada ini, apa namanya, komunikasi dari si…apa namanya, itu kan bisa saling ini ya, komunikasi antar pemainnya gitu kan. Kita gak tahu si anak kita ini berkomunikasi dengan yang usia berapa di ujung sana gitu kan,” ucap Mira.
“Jadi tindak kriminal gitu kan itu juga bisa terdapat di sana gitu,” tambahnya.
Mira juga mengatakan bahwa pengawasan orang tua sangat penting untuk mencegah hal-hal buruk terjadi. Menurut Mira, menjaga hubungan yang baik antara orang tua dan anak adalah kuncinya.
Menurut Mira, orang tua harus menjadi tempat anak bercerita.
“Ya, jadi tahu pergerakan anak baik fisik dan mental, psikis seperti apa,” ucap Mira.
Mira berpendapat bahwa orang tua tidak boleh semata-mata meminta anak-anak mereka berhenti bermain game di gawai. Sebaliknya, orang tua harus menawarkan alternatif aktivitas bagi anak-anak mereka.
“Kemungkinan orang tuanya hanya bisa melarang tapi nggak pernah bisa menghadirkan interaksi yang bermakna antara orang tua dengan anak gitu, nggak ada komunikasi yang juga konstruktif, gitu. Jadi, kan anak ini menemukan keasyikannya dengan si game Roblox itu kan, gitu ya. Orang tua tuh seringnya begitu, gitu ya, bisanya cuma ngelarang, tapi ngebangun gak bisa,” ucap Mira.
“Makanya kalau kami psikolog mengatakan gini, kalau anaknya dilarang, alternatif kegiatan untuk anak apa? Ibu bisa menghadirkan apa? Iya kan, ya dia (anak) mesti mikir sendiri, nggak bisa. Kalau anak-anak itu masih harus tanggung jawabnya orang tua untuk membangun pola kegiatan gitu ya, yang konstruktif gitu.”
“Entar kadang-kadang orang tuanya sibuk sendiri sama gadget, scrolling-scrolling sendiri, gitu kan. anaknya didiamkan. Ya udah, anaknya akhirnya bertemannya sama gawai dan si Roblox itu tadi deh,” tambah Mira.
Kecanduan
Namun, Mira menyarankan agar orang tua anak mendapatkan bantuan profesional karena anak sudah kecanduan Roblox dan sangat sulit untuk dipisahkan, bahkan sampai mengalami tantrum.
“Itu kondisi yang kayak gitu tuh pasti sih saya akan sarankan untuk ke profesional,” ujar Mira.
“Itu (tantrum) adalah kemungkinan perilaku yang muncul di permukaan saja gitu lho,” tambah dia.
Dukung Peraturan yang Dibuat Pemerintah
Mira mengatakan bahwa regulasi harus dibuat untuk mencegah anak-anak bermain game di gawai.
“Kalau pemerintah ingin membatasi, khususnya game Roblox ini ya, go ahead,” ucap Mira.
Mira juga mengatakan bahwa undang-undang pemerintah memungkinkan anak baru memiliki ponsel hingga usia 13 tahun ke atas.
“Kalau kita lihat perkembangan otak ya sebaiknya ya paling nggak baru 13-14 tahun lah,” ujar Mira.
Mira mengatakan bahwa sangat penting bagi pemerintah dan orang tua untuk melindungi anak dari permainan yang berbahaya.
“Jadi, nggak bisa cuma kita soroti anak-anaknya, anak-anak kan mereka masih bergantung pada lingkungan sekitarnya ya,” tandas dia.





