Jumlah orang yang tewas dalam perang narkoba yang menargetkan geng narkoba di Rio de Janeiro telah meningkat menjadi 119.
Perang narkoba berdarah memicu demonstrasi yang memprotes kekerasan yang dilakukan oleh aparat saat menggerebek favela (kawasan miskin yang padat penduduk) Penha dan Complexo de Alemao.
Selain itu, massa mendesak gubernur Rio de Janeiro Claudio Castro untuk mundur dari jabatannya.
Puluhan orang dari favela berkumpul di depan kantor pusat pemerintahan negara bagian, mengibarkan bendera Brasil yang diwarnai dengan cat merah, dan berteriak “pembunuh!”
Selain itu, ada pertanyaan tentang kondisi jenazah. Jenazah ditemukan dengan luka tusuk dan cacat, menurut laporan. Mahkamah Agung, parlemen, dan jaksa penuntut menuntut pemerintahan gubernur Claudio Castro untuk memberikan rincian operasi berdarah itu.
“Ini adalah pembunuhan,” kata warga dari kompleks Penha, Barbara Barbosa, dikutip dari AP, Kamis (30/10). Dia mengungkap putranya tewas dalam operasi sebelumnya di Penha.

“Apakah kami akan dihukum mati? Berhenti membunuh kami,” kata seorang aktivis, Rute Sales.
Sekitar 2.500 tentara dan polisi melakukan penggerebekan di favela Penha dan Complexo de Alemao, mengincar geng narkoba Komando Merah. Menurut Felipe Curi, sekretaris polisi negara bagian Rio, jenazah tersangka lainnya ditemukan di wilayah hutan. Dia menyatakan bahwa selama pertempuran dengan pasukan keamanan, para tersangka menggunakan kamuflase.
Menurut Curi, penduduk setempat telah melepaskan pakaian dan peralatan dari jenazah, dan tindakan mereka dianggap sebagai pemalsuan barang bukti.
“Mereka ada di hutan, mengenakan pakaian kamuflase, rompi, dan senjata. Sekarang banyak dari mereka yang muncul menggunakan pakaian dalam atau celana pendek tanpa peralatan, seolah-olah mereka baru saja melewati portal dan mengganti pakaian,” kata Curi.
Sebelum itu, orang-orang mengumpulkan jenazah terduga di truk dan meletakkannya di alun-alun utama. Sebelum tim forensik datang untuk mengambil jenazah, warga berteriak “pembantaian” dan “keadilan.”
“Mereka bisa saja dibawa ke penjara, kenapa dibunuh seperti ini? Banyak dari mereka yang hidup dan meminta bantuan,” kata seorang warga, Silva Santos.
“Iya mereka pedagang (narkoba), tapi mereka manusia,” lanjutnya.
Toko-toko yang terpantau di sekitar lokasi kejadian masih tutup. Aktivis lokal Raull Santiago mengatakan bahwa dia menemukan sekitar 15 mayat sebelum fajar.
“Kami melihat mereka yang dieksekusi: ditembak di punggung, ditembak di kepala, luka tusuk, diikat. Tingkat kebrutalan ini, kebencian yang disebarkan, tidak ada cara lain untuk menggambarkannya selain sebagai pembantaian,” kata Santiago.








