Dikabarkan bahwa pada hari Jumat, 3 April 2026 lalu, telah terjadi peningkatan aktivitas Gunung Slamet yang lokasinya berada di wilayah Jawa Tengah.
Hal tersebut ditunjukkan dengan munculnya sejumlah indikator, meliputi embusan asap putih serta peningkatan suhu maksimum di kawah.

“Potensi ancaman bahaya saat ini adalah erupsi freatik yang menghasilkan abu dan hujan lumpur atau erupsi magmatik yang menghasilkan lontaran material pijar ke daerah sekitar puncak di dalam radius dua kilometer,” kata Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria melalui keterangan tertulis, hari Sabtu, 4 April 2026, dikutip dari Tempo.co.
Dilansir dari Tempo.co, selain itu, terdapat ancaman bahaya lainnya yang dilaporkan berupa potensi embusan gas vulkanik konsentrasi tinggi di sekitar kawah gunung.
Walaupun demikian, Lana mengungkapkan bahwa saat ini status Gunung Slamet masih berada di tingkat Level II atau Waspada.
Lana menyebut, peringatan yang telah dikerluarkan ini bertujuan agar masyarakat setempat beserta dengan para wisatawan yang hendak mengunjungi gunung untuk tidak berada di dalam jarak 2 kilometer dari puncak.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh petugas di pos, melaporkan bahwa kepulan asap putih terlihat keluar secara terus menerus sampai membentuk kolom tinggi yang mencapai 300 meter di permukaan kawah.
Mengutip Tempo.co, petugas juga mengamati adanya kenaikan pada suhu maksimum yang mencapai hingga 411,2 derajat Celcius, berdasarkan hasil dari analisis citra termal kawah.
“Kenaikan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam aktivitas termal kawah,” ungkap Lana, dalam laman Tempo.co.
Selain itu, data kegempaan yang tercatat pada periode 16 Maret hingga 3 April 2026 telah merekam sejumlah aktivitas gempa di gunung tersebut, yakni 866 kali gempa embusan, 620 kali gempa berfrekuensi rendah, 1 kali gempa vulkanik dalam, serta 11 kali gempa tektonik jauh.






