Pada hari Rabu, 8 April 2026, telah terjadi sejumlah serangan yang diluncurkan oleh Israel ke wilayah Libanon hingga mengakibatkan tewasnya 254 orang serta melukai lebih dari 1.165 lainnya.
Dilaporkan bahwa pada saat serangan tersebut berlangsung, terdengar suara ledakan keras di wilayah Dahieh, selatan Beirut, yang kemudian disusul oleh kepulan asap tebal.

Berdasarkan informasi yang dirilis oleh Antara dalam laman Tempo.co, sebelumnya pihak militer Israel mengklaim telah meluncurkan serangan ke lebih dari 100 lokasi di sejumlah wilayah, seperti Beirut, Lembah Beqaa, serta Libanon selatan, hanya dalam kurun waktu 10 menit.
Usai beberapa jam setelah serangan tersebut berlangsung, terlihat sejumlah petugas darurat yang berada di salah satu lokasi kejadian di Beirut masih melakukan pencarian terhadap para korban selamat maupun tewas.
Dikabarkan bahwa insiden penyerangan ke sejumlah wilayah di Libanon ini menjadi “gelombang terbesar” sejak berlangsungnya konflik pada tanggal 2 Maret 2026 lalu, antara Israel dengan Hizbullah, yang merupakan kelompok pejuang Libanon.
“Kami menghadapi eskalasi berbahaya yang terjadi di Libanon, agresi Israel dengan lebih dari 100 serangan udara yang menargetkan warga sipil tak berdosa di Beirut, Dahieh, Bekaa, Gunung Libanon, dan selatan,” ujar Rakan Nassereddine, selaku Menteri Kesehatan Libanon, dilansir dari Tempo.co.
Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Al Jazeera, dikutip dari Tempo.co, Nawaf Salam, selaku Perdana Menteri Libanon, menyampaikan bahwa saat ini pihaknya tengah mengerahkan “seluruh sumber daya politik dan diplomatik Libanon untuk menghentikan mesin pembunuh Israel”.





