Berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal kesehatan BMJ Open, para peneliti melakukan penelitian tentang bagaimana mengurangi perilaku kurang gerak selama satu jam sehari dapat membantu mengatasi nyeri punggung.
Dalam kurun waktu enam bulan, para partisipan yang rata-rata meningkatkan aktivitas sedang hingga berat selama 20 menit sehari dan mengurangi perilaku kurang gerak selama 40 menit sehari diketahui mengalami lebih sedikit peningkatan pada nyeri punggung dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tetap melakukan perilaku kurang gerak.

Hasil dari penelitian ini menggarisbawahi bagaimana perubahan sederhana dalam aktivitas sehari-hari dapat membantu orang yang tengah mengalami nyeri punggung.
Dikutip dari medicalnewstoday.com, para peneliti dalam penelitian ini ingin memahami lebih jauh terkait hubungan antara nyeri punggung, mengurangi perilaku kurang gerak, sensitivitas insulin, kecacatan, dan fraksi lemak otot paraspinal. Lemak yang terdapat dalam otot paraspinal dan resistensi insulin keduanya berkaitan dengan nyeri punggung.
Penelitian ini merupakan sebuah analisis sekunder dari uji coba terkontrol secara acak. 64 orang dewasa dilibatkan dalam uji coba ini. Semua peserta memiliki indeks massa tubuhSumber Tepercaya yang menandakan mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, dan peserta melaporkan kurang dari dua jam aktivitas fisik sedang hingga berat setiap minggu.
Dengan menggunakan pengukuran akselerometer, para peserta juga tidak banyak bergerak selama 10 jam atau lebih atau setidaknya 60% dari waktu pemakaian akselerometer. Para peserta juga memiliki sindrom metabolikSumber Tepercaya, yang membuat kelompok ini memiliki risiko tinggi untuk terkena penyakit diabetes dan penyakit jantung.
Sebelum uji coba dilakukan, para peneliti mengukur aktivitas fisik serta perilaku menetap partisipan menggunakan akselerometer selama sekitar satu bulan. Peneliti membagi para peserta menjadi kelompok kontrol dan intervensi. Kelompok intervensi berlangsung selama enam bulan.
Kelompok intervensi berusaha mengurangi perilaku kurang gerak selama satu jam setiap hari, sedankan untuk kelompok kontrol tetap melanjutkan gaya hidup normal mereka. Rata-rata, partisipan dalam kelompok intervensi meningkatkan aktivitas fisik sedang hingga berat selama 20 menit sehari dan mengurangi perilaku kurang gerak selama 40 menit sehari.
Para peneliti melakukan pemindaian dengan menggunakan PET dan MRI pada subsampel dari empat puluh empat peserta untuk memeriksa penyerapan glukosa otot paraspinal dan fraksi lemak.
Secara keseluruhan, kelompok intervensi tidak mengalami adanya perubahan yang terjadi pada nyeri punggung, sedangkan untuk kelompok kontrol mengalami peningkatan nyeri punggung yang signifikan secara statistik.
Dilaporkan juga bahwa peneliti menemukan adanya hubungan antara peningkatan langkah harian dan penyerapan glukosa otot paraspinal yang lebih baik. Kedua kelompok tersebut mengalami peningkatan disabilitas yang berhubungan dengan nyeri, namun tidak ada perbedaan yang signifikan dalam disabilitas yang berhubungan dengan nyeri di antara kedua kelompok itu.
Para peneliti juga tidak menemukan adanya hubungan antara perubahan intensitas nyeri punggung dan perubahan fraksi lemak otot paraspinal, penyerapan glukosa, aktivitas fisik, perilaku menetap, atau disabilitas terkait nyeri. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa perubahan aktivitas sederhana pun dapat memiliki manfaat baik bagi orang yang mengalami nyeri punggung.







