Melihat fakta empiris yang terjadi saat ini, negeri ini berada dalam situasi yang memprihatinkan di tinjau dari aspek politik. Para politisi terkesan saling membuli di antara lawan politiknya, saling kontradiktif terhadap pendapat masing-masing demi merebut simpati rakyat dan pendukungnya, tetapi di belakang layar mereka tampak sangat rukun, kompak, terjadi hubungan yang harmonis seolah tidak ada pertentangan samasekali, seolah tidak ada perbedaan pandangan politik yang mendasar, mereka berbagi kekuasaan, itu bisa disaksikan melalui informasi diberbagai media massa (audiovisual). Dalam politik itu sah saja karena politik itu bebas nilai yang terpenting bagaimana kekuasaan itu bisa di raih. Bebas nilai artinya politik itu digunakan secara bebas tanpa nilai dan etika politik jika politik itu jatuh ke tangan penguasa zholim demi kekuasaan, sebaliknya politik itu akan sangat memperhatikan nilai dan etika politik jika politik itu jatuh ke penguasa bijak, demi kemaslahatan umat.
Pertanyaan muncul dari masyarakat melihat kondisi seperti sekarang ini ketika pilpres, orang mulai membandingkan antar presiden terdahulu hingga presiden sekarang, membandingkan wakil presiden terdahulu dengan wakil presiden sekarang.
Sesuatu yang sangat mengganjal hati dan pikiran rakyat adalah melihat kapasitas dan kualitas masing-masing presiden mulai dari Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Jokowi.
Wakil presiden mulai Muhammad Hatta, Sultan Hamengkubuwono IX, Adam Malik, Umar Wirahadikusumah, Soedarmono, Tri Sutrisno, BJ. Habibie, Megawati, Hamzah Haz, Yusuf Kalla, Boediono, Ma’ruf Amin, semua memiliki kualitas , sementara Gibran Rakabuming raka masih di pertanyakan kapasitas dan kualitasnya sebagai wakil presiden.
Diantara presiden dan wakil presiden yang menjadi sorotan masyarakat adalah mantan
Presiden Jokowi dan wakil presiden Gibran saat ini yang keduanya adalah ayah dan anak.
Jokowi presiden yang merusak konstitusi dengan merekayasa Gibran sang anak agar bisa dicalonkan sebagai cawapres tanpa melihat kriteria dan kualitas sang anak.
Pilpres telah usai dan Gibran resmi menjadi wapres, maka muncul pertanyaan, tidakkah rakyat menyesal memiliki wapres Gibran ?, tidakkah Prabowo menyesal memilih wakil?, orang mulai bergumam, “wakil presiden kok begitu” demikian juga nitizen yang selalu iseng mengomentari setiap sambutan resmi sang wapres demikian menggelikan jauh dari harapan kualitas sebagai seorang wapres.
Tentu ini akan berpengaruh terhadap rezim Prabowo karena diakui atau tidak, ketidakpastian kualitas wapres akan sangat berpengaruh terhadap Prabowo, belum lagi kasus fufufafa yang hingga saat ini belum di ungkap (di usut), kasus fufufafa , apakah fufufafa akan dibiarkan liar?, jelas nitizen akan memantau terus gerak sang wapres sampai sejauh mana sepak terjangnya.
Kemampuan komunikasi menunjukkan kualitas seseorang, kemampuan bahasa menunjukkan konsep berpikir seseorang, jika bicara sulit di mengerti terlebih dengan kosa kata terbatas dan kalimat yang tidak jelas, bukankah ini sesuatu yang menggelikan bagi bangsa Indonesia di lihat dunia internasional? Lelucon di level dunia, dunia akan menertawakan kita, seolah tidak pandai, tidak becus didalam memilih pemimpin, dan itu akibat syahwat kekuasaan Jokowi. Wahai rezim yang sedang berkuasa jangan biarkan rakyat malu karena ketidakmampuannya wakil presiden didalam menterjemahkan keinginan presiden, jangan jadikan kami bangsa bahan tertawaan dari pandangan dunia internasional, malu rasanya kami jika pemerintah tidak optimal didalam mengurus negeri ini karena kasus fufufafa, jangan biarkan kami malu.
Wapres yang lalu-lalu memiliki kapasitas dan kualitas serta bisa diambil ilmunya untuk dijadikan bahan kajian, bahan diskusi mahasiswa , melihat wapres sekarang ini masih menjadi satu pertanyaan terkait kualitasnya sebagai orang nomor dua di Indonesia ini.
Kualitas kepresidenan, kualitas kabinet Prabowo, kualitas rezim Prabowo benar-benar akan di nilai dan dilihat rakyat dan dikaitkan dengan kapasitas serta kualitas Gibran sebagai wakil presiden , ketika Gibran memanggil menteri misalnya apakah dia mampu menyampaikan konsep pemikiran yang imbang dengan menteri yang mempunyai Kapasitas Profesor?, sulit di bayangan.
Prabowo akan mendapat tekanan publik terkait kapasitas dan kualitas wapresnya.
Percakapan dan perbincangan Gibran terkait posisinya sebagai wapres akan terus terjadi disetiap diskusi termasuk fufufafa yang menurut Roy Suryo terindikasi kuat bahwa akun fufufafa itu adalah milik Gibran, masyarakat dan rakyat Indonesia akan tetap menunggu solusi dari fufufafa, dibiarkan menguap, liar, atau jadi bahan bulian, sangat bergantung kepada sikap dan tindakan Prabowo.
Menilai statement yang sering di sampaikan Prabowo di beberapa kesempatan pidatonya, yang akan menjadikan pemerintahan yang bersih, rakyat sangat menaruh harapan pada pemerintahan sekarang ini, arah ekonomi , arah politik, arah pemerintahan, kesejahteraan dan keadilan rakyat saat ini sangat bergantung kepada Prabowo, Wallahu A’am. (Yudha)





