Pada hari Rabu, para pejabat Jerman telah menangkap 22 anggota dan tiga tersangka pendukung organisasi teroris di seluruh negeri yang dicurigai memiliki rencana untuk menggulingkan pemerintah. Kantor kejaksaan federal Jerman, menyatakan bahwa sekitar 50 orang dicurigai terlibat di dalam bagian sebuah kelompok yang disebut sebagai gerakan ‘Warga Negara Reich’ yang berdiri pada bulan November 2021. Gerakan ‘Warga Negara Reich’ ini memiliki sebuah rencana untuk menggulingkan pemerintahan dan akan menggantinya dengan tatanan mereka sendiri.
Dilansir dari edition.cnn.com, pernyataan tersebut berisikan, “para tertuduh dipersatukan oleh penolakan yang mendalam terhadap lembaga-lembaga negara dan tatanan dasar demokrasi bebas Republik Federal Jerman, yang dari waktu ke waktu telah menyebabkan keputusan mereka untuk berpartisipasi dalam penghapusan kekerasan mereka dan untuk terlibat dalam tindakan persiapan konkret untuk tujuan ini.” “Para anggota kelompok mengikuti konglomerat mitos konspirasi yang terdiri dari narasi yang disebut Reichsburger serta ideologi QAnon.”

Pernyataan tersebut juga menyebutkan bahwa para tersangka anggota organisasi ini adalah warga Jerman. Dua diantaranya adalah orang Jerman dan satu orang Rusia. Marco Buschmann, Menteri Kehakiman Jerman, berkata bahwa “demokrasi dapat dipertahankan,” dan Buschmann menambahkan bahwa “operasi anti-teror besar” tengah berlangsung sejak pagi ini. “Jaksa Penuntut Umum Federal sedang menyelidiki jaringan teroris yang dicurigai dari lingkungan warga Reich,” ujar Buschmann melalui Twitter.
Kantor Kejaksaan Federal menyatakan bahwa penggerebekan akan terus dilakukan dan ditujukan terhadap 27 tersangka lainnya. Jerman telah berjuang untuk memberantas ekstremisme sayap kanan dalam beberapa tahun terakhir. Juni 2020, unit militer elit Jerman, KSK, dibubarkan sebagian setelah ditemukan adanya penumpukan ekstremis sayap kanan. Menurut kantor berita Agence France-Presse, KSK melakukan operasinya dengan kampanye antiteror dan situasi penyanderaan.
Sebelumnya pada bulan Februari 2020, terjadi penembakan massal yang menewaskan sembilan orang di dua bar di kota Hanau, dekat Frankfurt. Angela Merkel yang merupakan Kanselir pada saat itu, mengatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan atas dasar “motif rasis dan ekstremis sayap kanan.” Insiden tersebut merupakan serangan mematikan ketiga yang dihubungkan dengan tersangka sayap kanan di Jerman dalam satu tahun.







