China Mendorong Vaksin, Ketika Mundur Dari ‘Zero-COVID’ Berubah Menjadi Kacau

Protes warga berhasil membujuk pemerintah China untuk melonggarkan kebijakan Zero-Covid-19. Namun, kelegaan ini disusul dengan masalah baru yang melanda sistem kesehatan negara. (Photo : Andy Wong)
0 0
Read Time:2 Minute, 24 Second

Protes warga berhasil membujuk pemerintah China untuk melonggarkan kebijakan Zero-Covid-19. Namun, kelegaan ini disusul dengan masalah baru yang melanda sistem kesehatan negara.

Di Kabupaten Baoding, warga mengeluhkan kurangnya pasokan medis saat kasus Covid-19 sedang meningkat. Beberapa obat yang dijual bebas, seperti ibuprofen, tampaknya tersedia kembali dan tersedia di banyak apotek. Namun, obat-obatan tradisional Tiongkok yang populer seperti Lianhua Qingwen dan alat tes antigen masih sulit ditemukan.

Selain Baoding, berbagai layanan apotek daring juga memiliki persediaan obat dan alat tes yang terbatas. Bahkan, pemerintah China merekomendasikan agar warga negara dengan gejala menjalani skrining dengan penguji Covid-19 independen. Kondisi ini dapat mempersulit warga dengan gejala Covid-19 yang parah untuk mendapatkan pengobatan.

Ia merupakan salah satu warga Baoding yang kesulitan mendapatkan obat Covid-19. Saat menerima hasil tes Covid-19 yang positif, Li bersiap menjalani karantina selama lima hari di rumah sakit sesuai pedoman Covid-19 yang berlaku sebelumnya.

Namun, sehari setelah Li terkonfirmasi positif, pemerintah China melonggarkan pedoman Covid-19. Berkat bantuan darurat, Dia pulih di rumah. Tetapi masalahnya adalah Dia tidak punya obat di rumah.

Di sisi lain, terjadi antrian panjang di berbagai apotek sehingga sulit untuk membeli obat. Padahal, saat itu, Ia masih mengalami gejala demam.

Beberapa pihak menyambut baik keputusan pemerintah China untuk melonggarkan pembatasan terhadap Covid 19. (Photo : Reuters/Josh Arslan)

“Saya tidak bisa membeli obat apapun saat itu,” jelasnya seperti dilansir Reuters. Karantina mandiri di rumah juga tidak selalu merupakan pilihan yang baik. Di tengah musim dingin saat ini, warga Baoding juga mengalami krisis pasokan panas akibat pasokan batu bara yang tidak stabil.

Warga Baoding lainnya, Wang, mengatakan suhu di rumahnya naik hingga 18 derajat Celcius. Bahkan, saat ini ada dua anggota keluarganya yang terjangkit Covid-19. Suhu dingin dan tidak stabil ini diyakini meningkatkan risiko penyakit serius di kalangan warga.

Beberapa pihak menyambut baik keputusan pemerintah China untuk melonggarkan pembatasan terhadap Covid 19.Tetapi pada saat yang sama, keputusan ini juga menimbulkan kekhawatiran diantara beberapa orang. Pasalnya,tingkat vaksinasi Covid-19 di China masih tergolong rendah.

Selain itu, pelonggaran kewajiban tes PCR di China juga membuat otoritas kesehatan sulit untuk mendeteksi kasus dengan cepat. Mengingat jumlah penduduk Cina mencapai 1,4 miliar, kendornya tes PCR turut menyulitkan otoritas kesehatan untuk menekan penyebaran infeksi Covid-19. Bila peningkatan kasus Covid-19 terus berlanjut, kehidupan masyarakat dan ekonomi di negara tersebut juga bisa ikut terganggu.

“Nanti akan ada peningkatan angka infeksi, dalam beberapa pekan ke depan,” kata ahli epidemiologi dari Hong Kong University, Ben Cowling.

Sejak pelonggaran pembatasan, pemerintah China belum memprediksi potensi kasus serius dan kematian akibat Covid-19. Namun Oktober lalu, China memperkirakan setidaknya akan ada 100 kematian untuk setiap 100.000 kasus Covid-19.

Tantangan lain bagi layanan kesehatan China adalah keterbatasan fasilitas. Saat ini, China hanya memiliki 138.100 tempat tidur rumah sakit perawatan kritis. Selama pandemi Covid-19, angka ini tergolong rendah untuk populasi umum China.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today