Pada hari Minggu, para pejabat Ukraina menepis klaim Moskow yang mengatakan bahwa sejumlah besar prajurit Kyiv terbunuh dalam serangan Rusia yang terjadi minggu lalu di Kramatorsk, Ukraina timur. Juru bicara Kelompok Timur Angkatan Bersenjata Ukraina, Serhii Cherevatyi, menanggapi klaim Rusia dengan mengatakan “ini omong kosong.”
Dilansir dari edition.cnn.com, Tim CNN yang berada di lapangan tidak menemukan indikasi adanya korban besar-besaran di wilayah tersebut. Berdasarkan laporan tim, tidak ada aktivitas yang tidak biasa di dalam dan sekitar wilayah Kramatorsk, begitu juga di sekitar kamar mayat kota.
Seorang wartawan Reuters juga melaporkan tidak ada tanda-tanda serangan Rusia terhadap dua asrama perguruan tinggi yang diklaim Rusia telah menampung ratusan tentara Ukraina. “Tidak ada tanda-tanda yang jelas bahwa tentara telah tinggal di sana dan tidak ada tanda-tanda mayat atau jejak darah,” menurut laporan Reuters.

Walikota Kramatorsk mengungkapkan bahwa tidak ada korban jiwa. Sebelumnya, pihak Rusia telah memberikan klaim bahwa lebih dari 600 prajurit Ukraina tewas dalam sebuah serangan Rusia di Kramatorsk yang disebut sebagai “pembalasan” atas serangan Ukraina terhadap Makiivka pekan lalu, berdasarkan pernyataan dari Kementerian Pertahanan Rusia.
Menurut laporan Ukraina dan pro-Rusia, melaporkan bahwa serangan Makiivka terjadi tepat setelah tengah malam pada Hari Tahun baru, menghancurkan sebuah sekolah kejuruan yang menampung para prajurit wajib militer Rusia, di Makiivka, wilayah Donetsk.
Diperkirakan sekitar 89 prajurit Rusia telah tewas, sebuah pengakuan Rusia yang jarang terjadi terkait jumlah korban tewas yang tinggi. Pihak militer Ukraina awalnya memberikan klaim bahwa korban prajurit Rusia yang tewas sekitar 400 orang.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa “penyebab utama” serangan Makiivka adalah meluasnya penggunaan ponsel oleh prajurit Rusia, “bertentangan dengan larangan,” yang memberikan kesempatan bagi Ukraina untuk “melacak dan menentukan koordinat lokasi tentara.”
Pernyataan tersebut dibantah secara tegas oleh seorang blogger militer yang memiliki pengaruh dan secara implisit dibantah oleh pemimpin Republik Rakyat Donetsk (DPR), memperlihatkan adanya perselisihan dalam komado Rusia atas tanggapan Moskow terahadap serangan tersebut.






