Telah terjadi bentrokan di Peru selatan yang menewaskan sedikitnya 17 orang setelah protes yang menuntut pemilihan awal dan pembebasan mantan Presiden Pedro Castillo yang dipenjara kembali berlanjut.
Dilansir dari aljazeera.com, kantor Hak Asasi Manusia Peru melaporkan pada hari Senin, bahwa korban tewas di kota Juliaca, yang dimana para demonstran berusaha untuk menguasai bandara. Menurut kantor berita Associated Press, mengatakan satu orang lainnya tewas di kota terdekat Chucuito, dimana para demonstran melakukan pemblokiran jalan raya.
Itu merupakan jumlah korban tewas tertinggi sejak terjadinya kerusuhan dari awal Desember menyusul pemecatan dan penangkapan Castillo setelah upayanya membubarkan kongres yang dikutuk secara luas. Castillo menjalani hukuman 18 bulan penahanan pra-sidang atas tuduhan pemberontakan, yang dibantahnya.

Mantan pasangan Castillo, Dina Boluarte, menjadi pengganti dari Castillo, mendukung untuk mempercepat pemilihan presiden dan Kongres yang sebelumnya dijadwalkan pada tahun 2024. Boluarte juga memberikan dukungannya untuk dilakukan penyelidikan yudisial terkait dengan apakah pasukan keamanan telah bertindak dengan kekuatan yang berlebihan.
Namun, langkah-langkah tersebut sejauh ini gagal untuk mengakhiri kerusuhan, yang dimana setelah jeda singkat libur Natal dan Tahun Baru, telah dilanjutkan di beberapa wilayah termiskin di Peru yang merupakan dukungan untuk pemerintahan Castillo paling kuat.
Pada hari Senin, protes dilaporkan secara nasional terjadi di sekitar 13% provinsi Peru, beberapa diantaranya meliputi pemblokiran jalan yang membuat para pengemudi truk tidak mungkin mengirimkan hasil bumi ke pasar.
Di daerah Juliaca, dekat tepi Danau Titicaca di wilayah Puno selatan Peru, seorang saksi dari Reuters, merekam rekaman suara tembakan dan asap di jalanan pada saat para demonstran tengah berlindung dibalik pelat logam besar dan rambu-rambu jalan, dengan melemparkan batu ke arah polisi menggunakan ketapel buatan.
Pejabat Kementerian Kesehatan Puno, Henry Rebaza, menyampaikan kepada saluran televisi yang dikelola negara, bahwa sekitar 68 orang mengalami luka-luka dan beberapa dikirim ke rumah sakit. Beberapa korban tewas memiliki luka tembak, menurut pernyataan dari Direktur Kesehatan regional Puno, Ismael Cornejo, kepada stasiun radio lokal RPP.






