Kepercayaan Publik Menurun, Terhadap Reformasi Kepolisian Yang Sedang Goyah

Kematian terhadap Hasya Attallah Syahputra mengingatkan masyarakat pada tewasnya George Flyod beberapa tahun lalu di Amerika. (Photo : Kompas/Handining)
0 0
Read Time:2 Minute, 18 Second

Kematian terhadap Hasya Attallah Syahputra mengingatkan masyarakat pada tewasnya George Flyod beberapa tahun lalu di Amerika. Hasya tewas karena kecelakaan dan dijadika sebagai tersangka oleh polisi Indonesia.

Namun, George Flyord tewas karena dicekik dengan lutut oleh polisi di Minneapolis US, keduanya menjadi perhatian masyarakat serta memicu desakan dalam melakukan reformasi pada instansi Kepolisian.

Dalam kasus George Floyd, yang dikenal sebagai “Black Live Matters”, terjadi protes besar-besaran.

Kampanye ini sebenarnya merupakan puncak dari beberapa insiden ketidakadilan rasial yang dilakukan polisi dalam menangkap orang kulit hitam.

Selain itu, beberapa pengamat percaya bahwa permintaan “Black Lives Matters”.

Perhatian masyarakat semakin besar dan boleh jadi melahirkan desakan reformasi kepolisian (Photo : ntmcpolri.info)

Pada dasarnya berakar pada frustrasi dan kebuntuan rasa ketidaksetaraan sosial yang dialami oleh orang kulit hitam di Amerika.

Beberapa reformasi kepolisian menyusul, memulihkan kepercayaan publik terhadap hukum dan ketertiban di Amerika Serikat.

Oleh karena itu, ada persoalan sedikit banyak yang sama terjadi kasus kematian Hasya di Indonesia.

Perhatian masyarakat semakin besar dan boleh jadi melahirkan desakan reformasi kepolisian yang lebih besar. Maka dari itu, narasi berkembang dalam isu kematian Hasya mengarah terhadap ketimpangan sosial antara kaum tak berdaya dengan aparat yang berkuasa.

Frustasi Masyarakat

Rasa frustasi masyarakat kpada polisi semakin memanas di tengah pengadilan Ferdy Sambo, ketidakpercayaan masyarakat kepada polisi dalam kasus Sambo, benar-benar membuat gerakan besar disebabkan adanya pembunuhan berencana, sama-sama polisi.

Namun, masyarakat masih beranggapan kasus Sambo hanya kekacauan elite kepolisian, berbeda dengan kasus Hasya. Kasus tersebut hanya mengarahkan mampu menuju gerakan yang lebih besar.

Hasya merupakan salah satu mahasiswa terbaik di Universitas Indonesia. dengan adanya kecelakaan yang menimpa hasya saat mengendarai motor, lalu ia terlindas mobil yang dikendarai oleh Purnawirawan Polisi, pada (27/1/2023).

Lalu polisi tetapkan Harsya telah tewas menjadi tersangka, untuk itu kasus ini dihentikan dan tidak dilanjutkan proses hukum melibatkan Purnawiraan Polisi.

Pengalaman Kolektif

Kasus Hasya bisa jadi menjadi salah satu pemicu berbagai trauma akibat kekesalan publik terhadap polisi.

Tidak hanya itu, masyarakat mengalami sedikit kepercayaan di dalam kasus yang libatkan polisi.

Pengalaman kolektif inilah yang bisa menjadi gerakan penting seperti gerakan Black Lives Matters di Amerika.

Kebalikan peran polisi terhadap seorang mahasiswa bernama Hasya sebagai pihak yang berkuasa merupakan gambaran terhadap misi polisi.

Dimungkinkan untuk mengkompensasi dengan keamanan alternatif untuk mewujudkan rasa aman dan memastikan berfungsinya ketertiban yang harus disediakan oleh negara gagal.

Warga tidak lagi mempercayai polisi sebagai pelindung, dan ketika kepercayaan itu terkikis, mereka memposisikan polisi sebagai musuh.

Keamanan alternatif hanya membuat hidup sengsara bagi bangsa. Setiap orang menggunakan ruang aman mereka untuk perlindungan pribadi.

Proses kepercayaan ini, mengalami pengalaman kolektif orang-orang, mengikuti peran antagonis, dan ketimpangan sosial akan terakumulasi.

Boleh jadi tewasnya Hasya akan menjadi gerakan sosial yang mendesak reformasi kepolisian.

Pertanyaannya, apakah reformasi Kepolisian harus dilakukan ketika orang-orang sudah turun kejalan? Semoga saja tidak.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today