Sebuah perangkat lunak yang mampu untuk menulis ataupun menggambar layaknya buatan manusia, saat ini tengah menjadi pemicu perlombaan di dalam industri teknologi.
Dilansir dari nbcnews.com, perusahaan teknologi raksasa seperti Microsoft dan Google tengah berjuang untuk mengembangkan serta mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI) ke dalam mesin pencarian mereka.
Hal tersebut menarik perhatian para pesaing seperti OpenAI dan Stable Diffusion, membuat para pesaing itu berlomba-lomba untuk meluncurkan perangkat lunak mereka ke publik.
Agar dapat mendukung penggunaan aplikasi tersebut, diperlukan sebuah chip yang sangat kuat, yang dimana chip tersebut telah menjadi salah satu alat terpenting dalam industri AI, seperti NVIDIA A100.

Diketahui Nvidia A100 dibanderol dengan harga sekitar Rp 152 juta, dan Menurut Nathan Benaich, selaku investor yang menerbitkan buletin dan laporan terkait industri AI, menyebutkan bahwa Nvidia A100 telah menjadi “pekerja keras” bagi para profesional yang berkecimpung di dunia AI.
Berdasarkan laporan dari New Street Research, Nvidia telah menguasai 95% pasar penjualan prosesor grafis yang digunakan untuk pembelajaran mesin. A100 dikabarkan sangat cocok untuk jenis mesin model pembelajaran yang mendukung perangkat seperti ChatGPT, Bing AI, ataupun Stable Diffusion.
Teknologi A100 awalnya digunakan untuk membuat grafik 3D yang canggih dalam pembuatan game. A100 sering disebut sebagai prosesor grafis atau GPU, namun, saat ini Nvidia A100 telah diatur kembali dan ditargetkan untuk tugas-tugas pembelajaran mesin dan pusat data.
Perusahaan besar maupun perusahaan startup yang bergerak dalam bidang perangkat lunak seperti chatbot dan image generator, memerlukan ratusan hingga ribuan chip Nvidia.
Ratusan chip Nvidia itu berfungsi untuk melatih model AI, seperti model bahasa yang besar. Chip yang diperlukan juga harus kuat untuk mengurai terabyte data dengan cepat yang berguna untuk mengenali pola.
Kemudian GPU A100 itu juga diperlukan untuk “inferensi,” atau menggunakan model untuk menghasilkan teks, membuat prediksi, maupun mengidentifikasi objek di dalam sebuah foto.
Hal tersebut menandakan bahwa perusahaan AI memerlukan akses ke banyak A100. Bahkan, para pengusaha diindustri AI melihat jumlah A100 yang mampu mereka akses sebagai tanda kemajuan dan sebuah pencapaian.
Emad Mostaque, selaku CEO Stability AI, memberikan pernyataan melalui Twitter pada bulan Januari, menyatakan bahwa, “setahun yang lalu kami memiliki 32 A100.” Ia juga menambahkan, “Bermimpilah yang besar dan susunlah lebih banyak GPU.”





