Pada hari Kamis, beberapa jam sebelum pertemuan antara pemimpin Korea Selatan dan Jepang di KTT Tokyo, Korea Utara melakukan uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua, yang dimana peluncuran tersebut dilakukan untuk unjuk kekuatan militer miliknya.
Dilansir dari nbcnews.com, peluncuran yang merupakan uji coba ICBM pertama Korea Utara dalam satu bulan dan uji coba ketiga di dalam satu minggu ini, juga dilakukan ketika pasukan Korea Selatan dan Amerika Serikat tengah melaksanakan latihan militer bersama, yang dimana latihan tersebut dianggap oleh Pyongyang sebagai latihan untuk melakukan serangan.
Pihak militer Korea Selatan mengungkapkan bahwa ICBM milik Korea Utara melesat menuju perairan timur Semenanjung Korea sesaat setelah ditembakkan dari Pyongyang, sekitar pukul 07.10 pagi waktu setempat.
Berdasarkan pernyataan itu, diketahui bahwa ICBM ditembakkan pada sudut yang curam dan melesat sekitar 997 km sebelum akhirnya mendarat di perairan antara Semenanjung Korea dan Jepang.
Belum diketahui ICBM apa yang ditembakkan, namun, rudal jarak jauh Korea Utara telah dirancang untuk menyerang Amerika Serikat. Dilaporkan bahwa peluncuran sebelumnya telah memperlihatkan jika senjata Korea Utara mampu untuk menjangkau seluruh daratan Amerika Serikat.

Namun, beberapa ahli asing masih meragukan bahwa Korea Utara telah menguasai teknologi yang mampu untuk membuat hulu ledak kecil yang dapat ditempatkan di rudal tersebut dan melindungi hulu ledak saat memasuki kembali atmosfer.
Pada saat sebelum melakukan perjalanan ke Tokyo untuk menghadiri pertemuan puncak dengan Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida, Yoon Suk Yeol, selaku Presiden Korea Selatan, menyampaikan, “provokasi sembrono Korea Utara akan membayar harga yang pantas.”
Menurut kantor Yoon, ketika pertemuan keamanan darurat terkait peluncuran Korea Utara berlangsung, Yoon memberikan instruksi kepada militer Korea Selatan agar tetap melanjutkan latihannya dengan pasukan Amerika Serikat, melakukan beberapa latihan gabungan yang telah direncanakan secara intensif untuk memperkuat kerja sama keamanan antara Seoul, Washington, dan Tokyo.
Menurut Kepala Staf Gabungan Korea Selatan dalam sebuah pernyataan, menyampaikan bahwa mereka akan mempertahankan kesiapan yang kuat sesuai dengan kemampuan militer untuk “secara luar biasa” merespons setiap provokasi yang Korea Utara lakukan.






