Dua Orang Tewas Akibat Penembakan di Tepi Barat Yang Diduduki, Setelah Israel Membombardir Gaza dan Lebanon

Dua orang tewas pada saat beberapa orang bersenjata menembak sebuah kendaraan di Tepi Barat yang diduduki, setelah Israel meluncurkan serangan udara yang menghantam Lebanon dan membombardir Jalur Gaza. (Photo: AP Photo/Adel Hana via CNN)
0 1
Read Time:2 Minute, 14 Second

Pada hari Jumat, dilaporkan bahwa dua orang tewas pada saat beberapa orang bersenjata melakukan penembakan terhadap sebuah kendaraan di Tepi Barat yang diduduki, setelah Israel meluncurkan serangan udara yang menghantam Lebanon dan membombardir Jalur Gaza.

Hal tersebut diketahui telah memicu peningkatan kekhawatiran akan adanyaa konflik yang lebih luas setelah terjadinya kekerasan di tempat suci paling sensitif di Yerusalem selama berhari-hari.

Dilansir dari Aljazeera.com, penembakan itu menargetkan sebuah kendaraan yang berada di dekat pemukiman ilegal Israel, Hamra, Tepi Barat, Jericho utara.

Pihak militer Israel mengatakan bahwa, “sebuah serangan penembakan dilakukan terhadap sebuah kendaraan di Persimpangan Hamra. Tentara IDF [tentara Israel] sedang melakukan pencarian di daerah tersebut.”

Sebuah layanan ambulans, Magen David Adom, mengungkapkan bahwa dua wanita yang berusia sekitar 20-an tahun telah tewas dan wanita berusa sekitar 40-an tahun dikabarkan mengalami luka serius.

Diketahui penembakan itu terjadi sekitar beberapa jam setelah serangan rudal yang dilakukan oleh Israel ke Lebanon dan Gaza, mengikuti rangkaian serangan roket yang sangat besar yang diluncurkan ke Israel dari Lebanon selatan.

Tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut, tetapi, sejumlah penduduk kota Qalili, Lebanon selatan, termasuk di antaranya para pengungsi Suriah, menyatakan bahwa mereka telah mengalami luka-luka ringan. (Photo: Mohammed Abed via Al-Monitor.com)

Militer Israel menyampaikan bahwa pesawat-pesawa tempur miliknya telah menghantam infrastruktur milik kelompok-kelompok bersenjata Palestina, yang dimana kelompok tersebut dituduh telah meluncurkan hampir tiga lusin roket pada hari Kamis, yang menghantam daerah terbuka serta kota-kota di Israel utara.

Dilaporkan bahwa tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut, tetapi, sejumlah penduduk kota Qalili, Lebanon selatan, termasuk di antaranya para pengungsi Suriah, menyatakan bahwa mereka telah mengalami luka-luka ringan.

Bilai Suleiman, seorang warga Qalili yang terkejut saat sedang tidur di kediamannya akibat pengeboman itu, mengatakan bahwa, “saya segera mengumpulkan istri dan anak-anak saya dan membawa mereka keluar rumah.”

Presiden dari US/Middle East Project, Daniel Levy, memberikan pernyataan kepada Aljazeera bahwa kekerasan tersebut kemungkinan akan terus mengalami peningkatan.

Levy juga mengungkapkan bahwa, “pengingkaran tanpa henti terhadap kebebasan dan hak-hak rakyat Palestina di bawah pendudukan, yang hidup di bawah rezim Israel yang represif, tidak dapat dipungkiri akan membuat masyarakat melakukan perlawanan dalam bentuk apapun, itulah yang terjadi di seluruh dunia, secara global, secara historis.”

Ketegangan ini meningkat setelah pasukan Israel menyerbu Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki selama beberapa hari berturut-turut minggu ini, melontarkan granat setrum dan melakukan penyerangan terhadap masyarakat Palestina ketika mereka tengah berkumpul untuk menjalankan sholat Ramadhan.

Serangan yang dilakukan oleh Israel ke Lebanon selatan, yang dimana para analis menggambarkannya sebagai kekerasan perbatasan paling serius sejak perang Israel dengan kelompok Hizbullah di tahun 2006, mengancam untuk mendorong konfrontasi ke fase baru yang lebih berbahaya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today