China Laporkan Kematian Manusia Pertama Yang Disebabkan Oleh Flu Burung H3N8

Seorang wanita berusia 56 tahun dinyatakan telah meninggal dunia setelah dites positif menderita flu burung H3N8 di China selatan. (Photo: Shutterstock via timesofmalta.com)
0 0
Read Time:1 Minute, 59 Second

Dikabarkan seorang wanita berusia 56 tahun dinyatakan telah meninggal dunia setelah dites positif menderita flu burung H3N8 di China selatan, yang dimana menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kematian tersebut menjadi pertanda dari kematian pertama pada manusia akibat jenis flu burung itu.

Dilansir dari Aljazeera.com, walaupun H3N8 merupakan “salah satu subtipe flu yang paling sering ditemukan” pada unggas, namun, virus tersebut belum pernah terdeteksi pada manusia sebelum munculnya dua kasus yang terjadi di bulan April dan Mei tahun lalu di China.

Menurut WHO dalam sebuah pernyataan, wanita yang sebelumnya telah memiliki kondisi medis termasuk kanker itu, telah menjalani perawatan di rumah sakit dengan pneumonia parah setelah jatuh sakit di bulan Februari, dan dinyatakan meninggal dunia pada bulan lalu.

Dalam pernyataan yang dirilis pada hari Senin, WHO mengungkapkan bahwa, “kasus ini terdeteksi melalui sistem pengawasan infeksi saluran pernapasan akut yang parah (SARI). Tidak ada kontak dekat dari kasus ini yang mengalami infeksi atau gejala penyakit pada saat pelaporan.”

Badan kesehatan PBB menyampaikan bahwa pemerintah China telah meningkatkan pengawasan terhadap jenis virus H3N8 dan menambahkan bahwa penularan virus tersebut masih rendah. (Photo: REUTERS/Mariana Nedelcu via Telegraph.co.uk)

Dilaporkan bahwa ketiga orang yang tertular oleh H3N8 di China, diperkirakan telah terkena virus itu di sebuah pasar unggas hidup. Menurut badan kesehatan PBB, pemerintah China telah meningkatkan pengawasan terhadap jenis virus H3N8 dan menyampaikan bahwa penularan virus tersebut masih rendah.

Badan kesehatan PBB menambahkan, “namun, karena sifat virus influenza yang terus berkembang, WHO terus menekankan pentingnya pengawasan global untuk mendeteksi perubahan virologis, epidemiologis, dan klinis yang terkait dengan virus influenza yang beredar yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia (atau hewan).”

Diketahui bahwa infeksi virus H3N8 tidak berkaitan dengan pandemi flu burung H5N1, yang mana pandemi tersebut telah menghancurkan unggas dan burung liar di seluruh dunia selama 18 bulan terakhir dan telah menyebar ke mamalia termasuk di antaranya adalah rubah, beruang, dan kucing domestik.

Pada bulan Februari, William Schaffner, yang merupakan seorang profesor kedokteran di Divisi Penyakit Menular Universitas Vanderbilt, menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa untuk menginfeksi manusia, virus H5N1 harus menempel di reseptor paru-paru, yang dimana virus tersebut tidak memiliki kemampuan untuk terikat di bagian itu.

Dikatakan bahwa virus H3N8 tidak memiliki dampak yang terlalu berbahaya bagi burung liar ataupun unggas peliharaan jika dibandingkan dengan H5N1, dan didapati bahwa virus itu telah beredar sejak tahun 2002 setelah kasus pertama kali muncul pada unggas air di Amerika Utara.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today