Luhut Memulai Produksi Perdana Bahan Baku Baterai Lithium-Ion di Kendal

Luhut meresmikan bahan baku Bahan Baku Baterai Lithium-ion di Kendal, (Sumber Foto : nasional kompas.com)
0 0
Read Time:2 Minute, 59 Second

Bidang Kemaritiman dan Investasi telah meresmikan Batch pertama produksi dan rencana ekspansi fasilitas produksi dengan menggunakan bahan katoda Lithium Iron Phodphate (LFP) oleh PT LBM Energi Baru berada di Kawasan Ekonomi khusus Kendal, Jawa Tengah Pada hari (8/10/2024).

Luhut meresmikan bahan baku Bahan Baku Baterai Lithium-ion di Kendal, (Sumber Foto : nasional kompas.com)

Meski demikian bahan katoda LFP ialah salah satu komponen untuk membuat baterai lithium ion atau baterai LFP, dengan ini produksi batch pertama merupakan salah satu dalam rangka proyek kemitraan investasi strategis antara konsorsium Indonesia Investment Authority (INA) dan Changzhou Liyuan New Energy Technology Co., Ltd. (Changzhou Liyuan).

“Sebagaimana sering disampaikan oleh Bapak Presiden Joko Widodo, Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah. Kita harus menciptakan nilai tambah di negeri sendiri, membangun industri hilir yang kuat,” ucapnya Luhut dalam sambutannya saat peresmian sebagaimana dilansir siaran pers di laman resmi Kemenko Marves, dilansir dari kompas.com Rabu (9/10/2024).

“Dan menempatkan diri sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global. Hilirisasi bukan hanya kata-kata, tetapi strategi besar untuk mempercepat kemajuan Indonesia, terutama di sektor yang akan mendominasi masa depan: ekosistem kendaraan listrik, Electric Vehicle (EV),” jelasnya.

Luhut berharap bahwa investasi ini dapat berperan penting dalam memenuhi permintaan baterai LFP global seiring dengan meningkatnya adopsi kendaraan listrik EV di seluruh dunia.

Fasilitas produksi baterai LFP berlokasi di Kendal Industrial Park (KIP), salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia yang berstatus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Fasilitas ini dikatakan sebagai fasilitas produksi katoda LFP terbesar di dunia, di luar Tiongkok.

Luhut mengatakan bahwa rencana investasi bersama sebesar 200 juta tujuan nya untuk meningkatkan kapasitas dari 30.000 ton pada tahap I yang saat ini masih dalam tahap uji coba produksi menjadi 90.000 ton. maka pada tahap II yang dijadwalkan dimulai pada tahun 2025.

“Ini bukan sekadar pabrik, tetapi juga fondasi dari ekosistem EV (kendaraan listrik) Indonesia yang terintegrasi. Melalui penyempurnaan rantai produksi baterai lithium, tidak kurang dari 3 juta unit kendaraan listrik di seluruh dunia akan dipenuhi kebutuhan baterai lithium-nya oleh industri di Indonesia,” ujarnya Luhut.

LFP merupakan salah satu dari dua bahan kimia utama dalam baterai litium-ion di samping Nickel Cobalt Manganese (NCM)

LFP dikenal karena efektivitas biayanya dan ideal untuk kendaraan listrik serta sistem penyimpanan energi.

Berdasarkan Studi Ekosistem Baterai EV1, permintaan baterai global diperkirakan akan meningkat sekitar empat kali lipat antara tahun 2023 dan 2030 karena meningkatnya penggunaan kendaraan listrik.

Oleh karena itu, LFP diharapkan dapat berperan penting dalam memenuhi permintaan tersebut.

Sementara itu, NCM diperkirakan akan memenuhi sekitar 50% permintaan baterai litium-ion pada tahun 20230.

Keduanya diperkirakan akan terus memainkan peran penting dalam pertumbuhan industri baterai di masa depan, dengan LFP diperkirakan akan berkontribusi sekitar 35%.

“Pada tahun 2030, Indonesia diperkirakan akan melayani pasar senilai sekitar 10 miliar Dolar AS dalam bahan aktif katoda LFP, sehingga dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi transisi global menuju energi bersih. Investasi ini juga merupakan bukti daya tarik Indonesia sebagai negara untuk hilirisasi rantai pasok,” tutur Luhut.

Ia menambahkan, pabrik bahan katoda LFP juga akan memberikan dampak signifikan bagi masyarakat setempat, dengan potensi menciptakan lebih dari 2.000 lapangan kerja.

Hingga 92% dari jumlah ini disebabkan oleh pekerja lokal. Sementara itu, CEO Changzhou Shi Junfeng mengatakan PT LBM Energi Baru Indonesia merupakan produsen katoda pertama di luar China.

Operasi tahap awal mempunyai implikasi penting untuk meningkatkan keamanan pasokan dalam rantai pasokan energi baru global.

“Kerja sama ini merupakan pencapaian penting lainnya dari kerja sama strategis menyeluruh antara China dan Indonesia. Proyek ini akan memungkinkan Changzhou Liyuan dan INA untuk mencapai kerja sama strategis yang lebih erat,” tutur Shi Junfeng.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today