Setelah Konflik Israel-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Naik 3 Persen

Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk mengintensifkan serangan terhadap Iran, yang menyebabkan harga minyak dunia naik sekitar 3 persen pada hari Kamis. (Sumber Foto : Merdeka.com)
0 0
Read Time:1 Minute, 36 Second

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk mengintensifkan serangan terhadap Iran, yang menyebabkan harga minyak dunia naik sekitar 3 persen pada hari Kamis.

Selain itu, tanda-tanda apakah Amerika Serikat (AS) akan lebih terlibat dalam konflik tersebut menarik perhatian investor dan pelaku pasar. Harga minyak Brent di pasar global naik 2,15 USD, atau 2,8 persen, dan ditutup pada 78,85 USD per barrel.

Menurut CNBC Ini adalah penutupan tertinggi yang pernah terjadi sejak 22 Januari 2025. Meskipun demikian, harga minyak mentah AS naik 3,2 persen, mencapai level tertinggi sesi pada 77,58 USD per barrel. Netanyahu memerintahkan militer Israel untuk mengintensifkan serangan mereka terhadap sasaran strategis Iran serta sasaran pemerintah di Teheran.

Serangan itu dilakukan untuk melemahkan pemerintahan Ayatollah.

Keputusan Israel untuk meningkatkan operasi militernya terhadap Iran itu datang setelah laporan bahwa rudal Iran menghantam rumah sakit besar di kota Beersheba di selatan Israel. Setelah serangan terhadap rumah sakit itu, Katz mengancam pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Presiden AS Donald Trump terus mempertimbangkan untuk melakukan serangan ke program nuklir Iran.

“Saya mungkin melakukannya, saya mungkin tidak melakukannya, maksud saya tidak seorang pun tahu apa yang akan saya lakukan,” kata Trump dikutip dari CNBC, Jumat (20/6/2025).

Pada hari Kamis, Gedung Putih menyatakan bahwa presiden akan memutuskan untuk menyerang Iran dalam waktu dua minggu.

JPMorgan juga memperingatkan bahwa pergeseran pemerintah di negara penghasil minyak penting seperti Iran dapat berdampak signifikan pada harga minyak global.

Harga minyak Brent di pasar global naik 2,15 USD, atau 2,8 persen, dan ditutup pada 78,85 USD per barrel. (Sumber Foto : canva.com)

Menurut Natasha Kaneva, kepala penelitian komoditas global JPMorgan, Iran adalah salah satu produsen utama OPEC.

“Jika sejarah dapat dijadikan acuan, ketidakstabilan lebih lanjut di Iran dapat menyebabkan harga minyak naik secara signifikan dalam jangka waktu yang panjang,” kata dia.

Sangat sulit untuk mengembalikan pasokan yang hilang karena pergeseran pemerintahan.

“Yang selanjutnya mendukung kenaikan harga,” tutup Kaneva.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today