Mentan Sebut Rakyat Rugi Rp 99 Triliun Setahun Akibat Beras Oplosan

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pengoplosan beras di Indonesia menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat, mencapai Rp 99 triliun setiap tahun. (Sumber Foto : Kompas.com)
0 0
Read Time:1 Minute, 55 Second

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pengoplosan beras di Indonesia menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat, mencapai Rp 99 triliun setiap tahun.

“Kalau ini Rp 99 triliun itu adalah (kerugian) masyarakat. Sebenarnya ini satu tahun, tetapi kalau ini terjadi 10 tahun atau 5 tahun, karena ini bukan hari ini terjadi, ini sudah berlangsung lama, Pak. Nanti angkanya sudah pasti, bukan Rp 100 triliun, pasti di atas kalau ini dilacak ke belakang,” ujar Amran dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (16/7/2025).

Amran menyatakan bahwa kerugian tersebut disebabkan oleh perbedaan harga antara beras curah yang dijual dengan kesan beras premium.

Beras standar hanya dikemas ulang dan dijual dengan harga tinggi.

“Ibaratnya emas 24 karat, sebenarnya ini 18 karat tetapi dijual 24 karat. Jadi harganya yang naik, bukan kualitasnya yang naik,” ujar dia.

Dalam kasus beras oplosan ini, Mentan menyatakan bahwa ada dua jenis kerugian yang dialami negara. Yang pertama adalah kerugian yang disebabkan oleh program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar beras yang seharusnya dijual dengan harga murah malah dijual sebagai beras premium.

“Itu SPHP yang ada, ini penyelidikan. Ini SPHP diserahkan pada toko, 20 persen di etalase, 80 persen dioplos jadi premium. Itu satu, Pak, kerugian negara,” kata Amran.

Jenis kerugian kedua adalah kerugian masyarakat karena tertipu dengan membeli beras berkualitas rendah dengan harga tinggi.

“Ini beras biasa, dijual dengan premium. Beras curah ini tinggal ganti bungkus dan ada foto-fotonya sama kami, Pak. Kami serahkan ke penegak hukum,” kata Amran.

Amran menyatakan bahwa semua hasil tentang beras oplosan, termasuk dokumentasi dan hasil pemeriksaan dari tiga belas laboratorium, telah dikirim ke penegak hukum.

“Kami serahkan ke penegak hukum. Kami tim independen, bukan kami yang periksa, tetapi tim lab di seluruh Indonesia,” kata dia.

Beras standar hanya dikemas ulang dan dijual dengan harga tinggi.(Sumber Foto : Dok Kementan)

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebelumnya menyatakan bahwa beras oplosan, yang dikemas seolah-olah premium, tersedia bahkan di rak supermarket dan minimarket. Namun, kuantitas dan kualitasnya tidak sesuai dengan kenyataan.

Banyak merek menjual beras dalam kemasan 5 kg, padahal isinya hanya 4,5 kg. Banyak merek juga menjual beras premium, tetapi kualitasnya biasa saja.

Setelah penemuan ini terungkap, beberapa minimarket mulai mengeluarkan barang oplosan dari rak mereka. Namun, penegak hukum masih menyelidiki informasi dan bukti pelanggaran.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today