Bahlil Beri Jepang Mineral Penting Indonesia, Kerja Sama Nuklir Dibahas

Indonesia dan Jepang telah mencapai konsensus untuk meningkatkan kerja sama di bidang energi. (Sumber Foto : Dok Kementerian ESDM)
0 0
Read Time:2 Minute, 24 Second

Indonesia dan Jepang telah mencapai konsensus untuk meningkatkan kerja sama di bidang energi, terutama di bidang energi nuklir dan mineral kritis. Diharapkan bahwa kerja sama ini akan membantu meningkatkan ketahanan energi sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih.

Di sela kegiatan Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Ryosei Akazawa mencapai kesepakatan tersebut.

Kedua negara menandatangani Memorandum of Cooperation (MoC) tentang sektor mineral kritis dan energi nuklir selama pertemuan tersebut.

Diharapkan bahwa kerja sama ini akan memungkinkan pembangunan sistem energi yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan di wilayah Asia-Pasifik.

“Kami sangat terbuka, kami dengan senang hati untuk meminta kepada pemerintah Jepang maupun teman-teman pengusaha Jepang untuk bisa mengelola bersama-sama mineral kritis kami yang ada di Indonesia,” ujar Bahlil dikutip dalam keterangan resminya, Senin (16/3/2026).

(MoC) tentang sektor mineral kritis dan energi nuklir selama pertemuan tersebut. (Sumber Foto : Antara)

Kerja sama ini ditujukan pada peningkatan keamanan dan keandalan rantai pasokan global untuk sektor mineral penting.

Dengan memanfaatkan sumber daya mineral strategis yang dimiliki Indonesia, kerja sama ini diharapkan dapat membantu pengembangan teknologi energi bersih.

Teknologi energi bersih membutuhkan pengembangan mineral strategis, menurut Bahlil.

Ia menyatakan bahwa cadangan nikel global di Indonesia mencakup sekitar 43%.

Selain itu, Indonesia memproduksi bauksit, timah, dan tembaga, serta memiliki potensi logam tanah jarang.

“Jadi kalau ini mampu kita bisa implementasikan, saya pikir itu adalah hal yang baik,” tutur Bahlil.

Akazawa juga menekankan betapa pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi perubahan dunia, terutama untuk menjaga ketahanan energi dan keberlanjutan pasokan.

Menurutnya, karena kondisi geopolitik dan ketidakpastian global saat ini, setiap negara harus bekerja sama dengan lebih baik, termasuk menjaga cadangan energi strategis.

“Di tengah situasi krisis global saat ini, penting bagi kita untuk memperkuat kerja sama demi menjaga ketahanan energi. Jepang sendiri telah menyiapkan cadangan energi strategis sebagai langkah antisipasi,” ujar Akazawa.

Ia juga berterima kasih kepada pemerintah Indonesia karena telah mendukung izin ekspor LNG ke Jepang.

Sebaliknya, Akazawa menegaskan bahwa Jepang akan terus mendukung berbagai proyek kerja sama energi dengan Indonesia. Ini termasuk menyelesaikan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka sebagai bagian dari kolaborasi strategis kedua negara.

Di sisi lain, kerja sama di bidang energi nuklir berpusat pada pengembangan dan pemanfaatan teknologi sambil mempertahankan standar keselamatan yang tinggi.

Indonesia akan memiliki kesempatan untuk memanfaatkan keterampilan dan teknologi Jepang dalam pengembangan solusi energi rendah karbon melalui kerja sama ini.

Ke depan, kedua negara akan terus berbicara tentang cara untuk meningkatkan ketahanan energi wilayah tersebut. Ini akan mencakup mempercepat proyek transisi energi di bawah kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC), seperti kerja sama pada rantai pasokan LNG dan batu bara, dan menyelesaikan PLTP Sarulla dan PLTSa Legok Nangka.

Diharapkan kerja sama ini antara Indonesia dan Jepang akan meningkatkan ketahanan energi sekaligus membantu upaya dekarbonisasi di wilayah Indo-Pasifik.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today