Baru-baru ini, telah terjadi sebuah aksi protes yang menentang rencana pendirian pusat karantina Ebola di wilayah Kenya Tengah.
Selama berlangsungnya aksi protes pada hari Senin, 1 Juni 2026 lalu itu, terdapat dua orang yang dilaporkan telah tewas.

Mengutip Tempo.co, berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh Ashraq Al-Awsaat pada hari Selasa, 2 Juni 2026 lalu, dua orang demonstran yang menjadi korban dalam aksi tersebut diduga tewas akibat mengalami luka tembak.
Patrick Wahome, selaku koordinator aksi, mengungkapkan bahwa dua orang tersebut tewas setelah polisi melepas tembakan peluru tajam ke arah massa ketika demonstrasi tengah berlangsung di Pangkalan Udara Laikipia.
Dalam laporan tersebut, Kepolisian Nasional Kenya (NPS) mengklaim bahwa pihaknya tidak mengetahui secara detail terkait kronologi insiden yang telah menewaskan dua orang demonstran itu.
“Kami tidak mengetahui adanya kematian tersebut,” ungkap Michael Muchiri, selaku Juru Bicara Kepolisian, dalam laman Tempo.co.
Dilaporkan bahwa aksi unjuk rasa itu diselenggarakan di sekitar Pangkalan Udara AS, sebelum pada akhirnya sejumlah massa berhasil menerobos hingga masuk ke area dalam.
Dinukil dari Tempo.co, setelah berhasil menerobos masuk area tersebut, para demonstran pun langsung menyerukan tuntutannya hingga membakar ban serta melakukan pemblokiran jalan.
“Polisi kemudian dikerahkan untuk memulihkan ketertiban serta membubarkan massa hingga pukul 7 malam,” ucap pernyataan dari salah seorang warga setempat, dalam laman Kenyans, dilansir dari Tempo.co.






