Keluarga: Korban Ledakan Amunisi di Garut Menerima Upah Rp150.000

Pihak keluarga menolak pernyataan TNI bahwa ada korban sipil dalam ledakan pemusnahan amunisi tidak layak pakai di Garut, Jawa Barat. (Sumber Foto : bandung.bisnis.com)
0 0
Read Time:1 Minute, 58 Second

Pihak keluarga menolak pernyataan TNI bahwa ada korban sipil dalam ledakan pemusnahan amunisi tidak layak pakai di Garut, Jawa Barat, karena hendak memulung besi bekas.

Kakak kandung korban Rustiawan, Agus Setiawan, warga Cibalong, mengatakan bahwa para korban bekerja di lokasi peledakan dan dibayar oleh TNI sebesar Rp150 ribu per hari.

Selain itu, dia menjelaskan bahwa mereka menerima pembayaran sebagai imbalan untuk membuka peluru atau selongsong amunisi yang akan dimusnahkan.

“(Buka) Peluru kecil, buka selongsong. Diupah per hari Rp150 ribu,” ujar Agus.

Dia menolak tuduhan bahwa warga dengan sengaja memotong besi amunisi untuk kemudian dibeli di tempat pemusnahan amunisi TNI.

Selain itu, dia menyatakan bahwa para korban dan warga lainnya baru mulai bekerja ketika diminta saat barang-barang yang akan dimusnahkan tiba di lokasi.

“(Kerjanya) Paling 12 hari beres. Jadi bukan mulung, kami tidak berburu besi bekas dan selongsong. Kami bekerja, kuli,” katanya.

Agus membenarkan bahwa peristiwa itu terjadi pada hari yang sama saat kejadian, terkait video viral yang menunjukkan seorang pemotor mendekat ke lokasi ledakan.

Mereka menerima pembayaran sebagai imbalan untuk membuka peluru atau selongsong amunisi yang akan dimusnahkan. (Sumber Foto : Kompas.com)

Dia menyatakan bahwa peristiwa itu tidak terjadi pada saat ledakan awal, tetapi pada saat meledaknya detonator yang menewaskan tiga belas orang.

Ia menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi setelah militer meledakan amunisi yang tidak layak pakai. Selain itu, dia menyatakan bahwa para pemotor yang terlihat dalam video akan bekerja untuk mencari besi dan sisa-sisa amunisi yang terbakar.

Setelah warga mengambil sisa amunisi, TNI kembali melakukan peledakan untuk menghancurkan detonator yang sebelumnya digunakan untuk meledakkan amunisi.

“Yang mungut rombongan kita-kita juga, tapi beda peristiwa. Sebelum kejadian itu,” ujarnya.

Warga sipil berada di area pemusnahan amunisi untuk mengumpulkan sisa-sisa serpihan logam, menurut Mayor Jenderal Kristomei Sianturi, Kepala Pusat Penerangan TNI.

Kristomei mengatakan berdasarkan informasi yang dia kumpulkan, pemusnahan yang dilakukan dengan ledakan dengan banyak orang yang mendekat sudah menjadi kebiasaan.

“Informasi yang kami dapat, kebiasaan yang ada, adalah apabila setelah peledakan itu masyarakat mendekat,” kata Kristomei dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV, Senin (12/5).

“Kenapa mereka mendekat? Dalam rangka untuk mengambil sisa-sisa serpihan logam, tembaga, besi dari munisi-munisi yang sudah diledakkan tadi. Karena itu punya nilai jual,” tuturnya.

Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigadir Jenderal Wahyu Yudhayana, metode yang digunakan warga sipil untuk masuk ke lokasi pemusnahan adalah salah satu topik yang sedang diselidiki.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today