Pemerintah meningkatkan produksi daging sapi dalam negeri dengan menambah kuota impor sapi hidup atau bakalan sebanyak 184.000 ekor, bersama dengan pemangkasan impor daging kerbau karena pemasukan yang kurang.
“(Jumlah impor sapi bakalan) 350.000 ekor tambah 184.000 ekor. Jadi saya sudah tadi bicara dengan teman-teman kalau memang kita fokusnya sapi bakalan, nanti kita bebasin aja, enggak usah ada kuota-kuota lagi,” kata Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Jumat (16/5).

Impor daging beku tidak memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat, menurut Zulhas, tetapi impor sapi hidup memiliki nilai tambah karena diawasi oleh peternak, petani rumput, dan penyedia pakan.
“Tapi kalau (daging) beku, enggak ada nilai tambahnya. Beli daging beku dari di sana masuk sini langsung jual. Jadi harganya bisa lebih murah daripada kalau kita gemukin kan,” tutur Zulhas.
Zulhas juga menjelaskan bahwa pemerintah telah memangkas kuota impor daging kerbau dari 200.000 menjadi 100.000 karena impor daging kerbau masih sangat sedikit.
“Permintaan dari Kementan 200.000 (ekor) ternyata yang masuk sampai hari ini sedikit, jadi kita kurangi separuh, tinggal 100.000 saja,” tegasnya.
Selain itu, ia menyatakan bahwa penggemukan sapi hidup sekarang menjadi fokus kebijakan pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang.
“Semangat penggemukan itu artinya (sapi) bakalan ya, sapi hidup, tadi ada yang penting, itu kita ditambah bahkan kita bebaskan. Sapi hidup untuk penggemukan,” ungkap Zulhas.
Namun, Zulhas menegaskan bahwa impor daging beku harus dibatasi jika ingin mendukung peternak lokal agar bisnis penggemukan sapi tetap punya pasar dan tetap kompetitif.








