Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) kembali menggulirkan program bantuan pangan berupa beras bagi jutaan keluarga penerima manfaat (KPM) di seluruh Indonesia. Tahun ini, penyaluran dilakukan kepada sekitar 18,27 juta KPM, dengan tujuan menekan dampak kenaikan harga pangan pokok serta menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi.
Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan pangan beras ini merupakan bagian dari instrumen stabilisasi pasokan dan harga pangan yang rutin dilakukan pemerintah, terutama menjelang periode rawan pangan. Setiap KPM akan menerima 10 kilogram beras per bulan selama tiga bulan berturut-turut, terhitung mulai Juli hingga September 2025.

Menurut Arief, program ini bersumber dari cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog. Pemerintah memastikan stok CBP dalam kondisi aman, sehingga distribusi bantuan tidak akan mengganggu ketersediaan beras di pasar domestik. Saat ini, Bulog memiliki stok beras mencapai 1,5 juta ton, dengan rencana penyerapan beras dari petani terus berjalan untuk menjaga ketahanan pangan nasional.
“Bantuan pangan beras ini adalah upaya konkret pemerintah membantu meringankan beban pengeluaran masyarakat, khususnya kelompok rentan. Selain itu, penyaluran bantuan juga berperan dalam pengendalian inflasi pangan yang kerap meningkat menjelang musim kemarau,” ujar Arief dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, 6 Juli 2025.
Penyaluran beras dilakukan secara bertahap melalui kerja sama dengan PT Pos Indonesia serta berbagai pihak terkait di tingkat daerah. Bapanas juga menggandeng pemerintah daerah untuk memastikan distribusi tepat sasaran dan berjalan lancar di seluruh pelosok Tanah Air.

Selain beras, pemerintah terus mengkaji kemungkinan pemberian bantuan pangan lain, seperti telur dan ayam, untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Menurut Bapanas, kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo agar setiap program perlindungan sosial dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Sementara itu, Bulog menargetkan penyerapan gabah dan beras dalam negeri terus meningkat demi menjaga stok nasional. Direktur Utama Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi, mengatakan pihaknya telah bersiap menampung hasil panen petani di berbagai sentra produksi. Bulog berkomitmen membeli gabah petani dengan harga wajar agar petani tetap mendapatkan keuntungan yang layak.

Pemerintah pun mengimbau masyarakat agar tidak khawatir terhadap ketersediaan beras. Dengan stok yang terjaga, diharapkan stabilitas harga di pasar tetap terkendali. Arief menegaskan, distribusi bantuan pangan ini akan terus diawasi secara ketat agar berjalan transparan dan akuntabel.
Melalui penyaluran bantuan pangan beras kepada 18,27 juta penerima, pemerintah berharap dapat memberikan perlindungan sosial yang efektif, menjaga kesejahteraan masyarakat, sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional di tengah tantangan global.





