Sekarang, Bilqis, seorang anak empat tahun yang hilang di taman kota Makassar, telah ditemukan di Jambi. Kisah penyelamatannya mengungkap banyak hal menarik, seperti sindikat perdagangan anak dan upaya keras polisi untuk memulangkan Bilqis ke ayahnya.
Selain itu, data menunjukkan bahwa Suku Anak Dalam Jambi melakukan adopsi yang melanggar hukum hingga negosiasi yang berlangsung selama dua malam. Ini adalah ringkasan.
Polisi Menemukan Grup Facebook yang Menjual Anak-anak Untuk Adopsi
Polrestabes Makassar menemukan beberapa grup Facebook yang diduga mengatur penjualan dan adopsi anak. Penyelidikan kasus penculikan anak berusia empat tahun Bilqis di Makassar menghasilkan temuan ini.
“Jadi cara berhubungannya di sosmed sebenarnya ada beberapa grup di Facebook yang khusus membahas tentang seperti ini tapi bahasanya adopsi, ada grupnya di sana dan di sana juga kadang-kadang ada orang yang mencari,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Makassar Kompol Devi Sujana di Polrestabes Makassar, Senin (10/11).

Devi mengatakan bahwa dalam kasus Bilqis, ada pihak yang benar-benar mencari anak untuk diasuh, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Polisi menduga bahwa individu tertentu dapat menggunakan praktik ini untuk kepentingan yang melanggar hukum.
“Mencari anak apakah mungkin buat orang lain atau buat diri sendiri, tapi untuk korban yang saat ini kita amankan yang bersangkutan emang dicari oleh yang membutuhkan untuk menjadikan anak,” jelasnya.
Polisi Sebut Orang-orang Suku di Jambi Adopsi Anak untuk Meningkatkan Keturunan
Akhirnya, Bilqis ditemukan selamat di wilayah Suku Anak Dalam (SAD) di Jambi. Proses penyelamatannya sangat sulit karena penduduk setempat sempat menolak melepasnya, menganggapnya sebagai anak sendiri.
“Sangat alot, karena mereka bertahan. Katanya, anak itu sudah dianggap sebagai anaknya sendiri,” kata Kasubnit Jatanras Polrestabes Makassar, Ipda Adi Gaffar, dilansir dari kumparan, Selasa (11/11).
Adi menjelaskan bahwa adopsi sudah umum di kalangan Suku Anak Dalam. Salah satu tersangka bahkan mengaku menggunakan perantara bernama Lina untuk membawa anak-anak untuk diadopsi.
“Memang mereka biasa merawat anak-anak yang diadopsi. Kata salah satu tersangka juga, sudah sering membawa anak untuk diadopsi ke suku anak dalam melalui perantara bernama Lina,” ujarnya.
Selamatkan Bilqis dari Risiko Dibunuh Saat Masuk Pedalaman Jambi
Upaya untuk menyelamatkan Bilqis di pedalaman Jambi ternyata menimbulkan banyak bahaya. Polisi yang masuk ke wilayah Suku Anak Dalam mungkin dibunuh jika tidak berhati-hati, tetapi mereka nekat untuk menyelamatkan bocah empat tahun itu.
“Betul sekali (ada risiko dibunuh), makanya yang satu anggota polisi ini yang kenal sama Tumenggung (ketua adat),” kata Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jambi, Kombes Pol Jimmy Christian Samma, kepada kumparan, Selasa (11/11).
Jimmy mengatakan bahwa polisi tidak memiliki jaminan keamanan saat berada di pedalaman dan bahwa ada kejadian kekerasan terhadap pendatang di wilayah tersebut.
“Memang pernah kejadian di sana, dulu beberapa tahun yang lalu, pernah dipukuli, susah, lah,” katanya.
Dalam upaya menyelamatkan Bilqis, Peristiwa 2022 Memungkinkan Polisi Masuk ke Suku di Jambi
Namun, pengalaman polisi di pedalaman Jambi pada 2022, ketika mereka membantu mencari anak Suku Anak Dalam yang hilang hingga ditemukan di Palembang, membantu upaya penyelamatan itu. Pengalaman itu sangat penting bagi aparat untuk diterima dan dipercaya oleh komunitas adat.
“Tahun 2022, kami bantu temukan anaknya juga yang hilang. Itu anak ditemukan di Palembang,” ujar Dirreskrimum Polda Jambi, Kombes Pol Jimmy Christian Samma.
Karena mereka masih dikenal oleh Suku Anak Dalam, polisi yang sebelumnya menangani kasus itu kembali ditugaskan.
“Karena dia sudah lama di situ, pengalamannya ada, makanya dia masih didengarkan oleh Suku Anak Dalam itu, masih dianggap,” kata Jimmy.
Akibatnya, negosiasi berlangsung selama dua hari dua malam hingga Bilqis berhasil diselamatkan pada 8 November 2025. Empat orang ditetapkan bersalah atas penculikan dan terancam 15 tahun penjara.
Pajero Bermasalah Saat Polisi Selamatkan Bilqis dari Suku di Jambi
Penyelamatan Bilqis di pedalaman Jambi penuh dengan tantangan. Polisi harus berunding dengan Suku Anak Dalam, yang mengklaim telah membeli Bilqis dari pasangan Adit dan Meriana seharga 80 juta rupiah. Situasi di lapangan sangat tertekan karena keadaan ini, yang membutuhkan keputusan cepat.
“Mereka mau uangnya harus diganti. Nah, kan, bingung,” kata Dirreskrimum Polda Jambi, Kombes Pol Jimmy Christian Samma.
Polisi menggunakan panggilan video untuk menghubungkan Meriana dengan tumenggung atau kepala adat untuk memastikan bahwa transaksi itu benar.
“Anggota (polisi) bingung, karena enggak bisa lama ini. Kalau lama, bisa kacau,” ujar Jimmy.
Lalu, karena Meriana sudah jadi tersangka, ia melepas mobil Pajeronya.
“Kebetulan Meriana ini punya mobil Pajero. Urusannya Meri, kan sudah tersangka. Meri yang atur bagaimana caranya. Meri bilang, ‘Bawa saja mobilnya’ lalu mobilnya ditukar dengan anak,” kata Jimmy.
Jimmy menolak informasi bahwa polisi membayar 85 juta rupiah untuk menebus Bilqis. Dia memberi tahu mereka bahwa mobil Pajero milik Meriana digadaikan selama negosiasi yang berlangsung selama dua hari dua malam, dan akhirnya Bilqis berhasil diselamatkan pada hari Sabtu, 8 November 2025.
Apakah Penculik Bilqis benar-benar menjual anaknya sendiri?
Dalam kasus penculikan Bilqis, fakta baru muncul. Salah satu tersangka, Sri Yuliana, yang juga dikenal sebagai Ana, diduga telah lama terlibat dalam penjualan anak, bahkan disebut-sebut telah menjual anak kandungnya sendiri. Informasi ini muncul setelah dua anak Sri dibawa ke UPTD PPA Makassar oleh polisi untuk perawatan psikologis.
“Kalau informasi (anak Sri Yuliana dijual juga) saya dapat dari anaknya itu. Ini sementara didalami juga sama pihak kepolisian,” kata Konselor Hukum UPTD PPA Kota Makassar, Sitti Aisyah.
Menurut Ita Isdiana Anwar, Kepala UPTD PPA Makassar, anak Sri menceritakan bahwa ibunya menjual tiga saudaranya.
“Kan yang di kami ini umur 9 tahun dan 5 tahun. Nah yang kakak bilang adiknya 3 itu dijual oleh mamanya. Dia bilang tiga,” ujarnya.
AKBP Devi Sujana, Kasub Reskrim Polrestabes Makassar, tidak mengetahui informasi tersebut.
“Kami belum tahu itu. Dan kami nanti cari tahu. Setiap informasi akan dikembangkan,” ucapnya.
Kisah Polisi Mengambil Bilqis dari Jambi: “Kalau Anak Itu Tak Pulang, Kami Tak Pulang
Akhirnya, setelah sepekan hilang, Bilqis (4) ditemukan selamat di pedalaman Jambi, di pemukiman Suku Anak Dalam (SAD). Hasil ini merupakan penutup pencarian yang panjang oleh penegak hukum sejak bocah Makassar itu dinyatakan hilang pada 2 November.
Rekaman CCTV yang menunjukkan Bilqis dibawa oleh seorang wanita misterius telah diungkapkan oleh Ipda Adi Gaffar, Kasubnit Jatanras Polrestabes Makassar.
“Kami awalnya telusuri CCTV dekat lokasi dan betul menemukan seorang ibu-ibu membawa anak keluar dari Taman Pakui,” katanya.
Selain itu, penyelidikan membawa petugas ke jejak perdagangan anak lintas daerah. Aparat menemukan bahwa Bilqis telah diserahkan ke komunitas Suku Anak Dalam setelah melakukan penyelidikan di Makassar, Solo, dan Jambi. Adi mengatakan bahwa perundingan dengan penduduk suku berlangsung selama dua hari dua malam.
“Mulai dari malam tembus pagi, malam lagi komunikasi. Kami memohon dengan hati nurani, karena kalau anak itu tidak pulang, kami juga tidak akan pulang,” ujarnya.
Meskipun sangat emosi, negosiasi akhirnya berhasil.
“Mereka menangis karena sudah terjalin hubungan emosional. Bilqis sempat meronta karena menganggap Tumenggung itu bapaknya, saking dekatnya,” kata Adi.






