Puluhan siswa di Jakarta Timur tengah mendapat perhatian serius setelah puluhan dari mereka mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa ini menjadi sorotan karena tidak hanya berkaitan dengan kesehatan anak didik, tetapi juga mengungkap tantangan dalam pelaksanaan program yang dimaksudkan untuk meningkatkan asupan gizi di sekolah.

Peristiwa bermula ketika 72 siswa dari empat sekolah di wilayah Pondok Kelapa, Jakarta Timur mulai menunjukkan gejala seperti sakit perut, mual, diare, bahkan muntah setelah mengonsumsi makanan yang disediakan oleh salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertugas menangani MBG.
Para siswa kemudian dirujuk dan dirawat di tiga rumah sakit berbeda, yaitu Rumah Sakit Khusus Duren Sawit, RS Pondok Kopi, dan Rumah Sakit Harum. sebagian dalam kondisi stabil dan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Persoalan ini mengundang reaksi dari berbagai pihak, termasuk organisasi medis. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan pentingnya standar keamanan pangan yang tidak boleh diabaikan dalam program apa pun, terutama yang menyangkut anak-anak.

Ketua IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso SpA, menekankan bahwa makanan bergizi harus memenuhi standar yang jelas, mulai dari proses pengolahan hingga penyajian, termasuk waktu penyajian yang tidak terlalu lama dan higiene yang ketat. Menurutnya, pola pangan yang layak bukan sekadar terpaut pada nutrisi saja, tetapi juga pada cara pengelolaan yang aman agar tidak menimbulkan risiko kesehatan.
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menyatakan bahwa berdasarkan laporan awal yang diterima pihaknya, penyebab dugaan keracunan siswa kemungkinan besar berasal dari proses pembuatan makanan yang terlalu lama sehingga berpotensi menjadi tempat berkembangnya bakteri atau penurunan kualitas makanan. Pemerintah pun mengambil langkah untuk menghentikan sementara operasional dapur SPPG yang bersangkutan hingga evaluasi lengkap dilakukan.
Insiden ini juga memicu respons di tingkat legislatif. Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, mengapresiasi upaya cepat Badan Gizi Nasional (BGN) dalam menangani dampak kejadian tersebut.

Namun, ia menilai bahwa sanksi penutupan sementara terhadap SPPG yang menyebabkan keracunan itu belum cukup. Ia menyerukan agar fasilitas yang terbukti lalai dalam pengelolaan makanan anak ditutup secara permanen dan izin operasionalnya dicabut demi keamanan publik.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri terus memantau penanganan korban, termasuk menanggung biaya perawatan yang ditanggung sepenuhnya oleh BPJS maupun BGN sesuai kebijakan yang berlaku. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, turut mengecek kondisi para siswa di rumah sakit dan memastikan proses pemulihan berjalan baik, berharap mereka dapat kembali beraktivitas dalam waktu dekat.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya standar keamanan pangan dan pengawasan ketat dalam pelaksanaan program makan sekolah. Selain itu, kejadian ini memicu diskusi luas tentang perlunya audit dan evaluasi menyeluruh atas MBG agar tujuan awal program — yaitu meningkatkan gizi anak — tidak berubah menjadi ancaman kesehatan.






