Sekitar Hampir 200 Pengungsi Rohingya Dengan Kondisi Kelaparan Dan Dehidrasi, Diselamatkan Di Aceh

Pengungsi Rohingya yang telah terapung dilautan selama berminggu-minggu, diselamatkan dan tengah dirawat di Aceh. (Photo: GettyImages/Chaideer Mahyuddin)
0 0
Read Time:1 Minute, 51 Second

Pada hari Senin, sekitar 185 orang pengungsi Rohingya, termasuk wanita dan anak-anak, diselamatkan di Aceh, Indonesia, menurut juru bicara Asia untuk badan pengungsi PBB (UNHCR), Babar Baloch. Dilaporkan para pengungsi Rohingya telah mengapung di Laut Andaman selama berminggu-minggu dengan kondisi kelaparan dan dehidrasi dikarenakan mesin perahu mereka mati.

Dilansir dari edition.cnn.com, Baloch berkata melalui Twitter, “pria, wanita, dan anak-anak yang putus asa. Banyak yang mengalami dehidrasi, membutuhkan perhatian medis yang mendesak. Sebuah helaan nafas lega.”

Penyelamatan tersebut menjadi sebuah harapan bagi kelompok pengungsi Rohingya, yang telah meninggalkan Bangladesh pada bulan lalu, di mana sekitar 1 juta masyarakat minortias Muslim Rohingya yang tidak memiliki kewarganegaraan tinggal di tempat yang dianggap sebagai sebuah kamp pengungsian terbesar di dunia setelah melarikan diri dari pembunuhan dan pembakaran brutal oleh militer Myanmar.

Dilaporkan bahwa pengungsi Rohingya telah meninggalkan kamp pengungsian sejak tanggal 25 November. (Photo: GettyImages/Amanda Jufrian)

Para pengungsi Rohingya memulai pelayarannya pada tanggal 25 November dari kamp pengungsian Cox’s Bazaar yang dimana kondisinya sangat mengerikan dan kaum wanita berisiko mengalami kekerasan dan pelecehan seksual.

Diantara para penumpang tersebut merupakan seorang ibu muda yang tengah mencari masa depan yang lebih baik untuk putrinya yang berusia 5 tahun, dan seorang anak laki-laki berusia 17 tahun dengan harapan untuk mendapatkan uang agar dapat membeli obat-obatan bagi orang tuanya yang sedang sakit.

Perahu itu diperkirakan akan menuju ke Malaysia, dan telah mengapung sejak akhir November saat mesinnya dilaporkan mati. Pada titik yang berbeda selama perjalanannya, perahu tersebut terlihat berada di dekat India, Sri Lanka, dan Indonesia. UNHCR mengungkapkan permohonan intervensi sebelumnya “terus diabaikan” oleh beberapa negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Menurut Baloch, pada hari Minggu, 58 orang yang berasal dari kapal tersebut diduga diselamatkan oleh nelayan di Aceh. Baloch menambahkan, pada hari Senin, para penumpang yang masih hidup tiba di pantai. Para penumpang saat ini telah mendapatkan perawatan medis di Aceh, tetapi, masih belum jelas apa yang akan terjadi dengan mereka di beberapa hari ke depan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana di Kabupaten Pidie, Aceh, Muhammad Misbahul, mengatakan bahwa “sebagian besar kondisi mereka tidak sehat,” dan menambahkan bahwa tiga klinik lokal tengah merawat para pengungsi. Umar Farukh, yang merupakan salah satu pengungsi, berharap bahwa Indonesia “akan memberi kami kesempatan pendidikan.”

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today