Pada hari Minggu, jumlah korban tewas akibat serangan rudal Rusia di sebuah apartemen di kota Dnipro, Ukraina, bertambah menjadi 20 orang, sehari setelah terjadi ledakan yang terdengar di seluruh Ukraina.
Dilansir dari edition.cnn.com, Valentyn Reznichenko, yang merupakan kepala administrasi militer regional Dnipropetrovsk, mengatakan bahwa sekitar 73 orang mengalami luka-luka dalam serangan yang menghantam sebuah apartemen sembilan lantai, termasuk empat orang yang tengah berada dalam kondisi kritis.
Melalui sebuah postingan di Telegram pada hari Minggu, Reznichenko menyampaikan bahwa 72 apartemen hancur dan 230 rusak dalam serangan tersebut.

Operasi penyelamatan tengah berlangsung hingga saat ini dengan 40 orang yang masih belum ditemukan. “Kami berjuang untuk setiap orang, setiap nyawa,” ujar Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melalui media sosial.
Pada hari Sabtu, Presiden Zelensky dalam pidato malamnya menyampaikan bahwa, “lusinan” orang, termasuk seorang anak perempuan berusia tiga tahun, telah diselamatkan dari gedung yang sebagian besar lantainya “hancur” dalam serangan tersebut.
Angkatan Udara Ukraina menyampaikan bahwa rudal Rusia yang menghantam apartemen di Dnipro adalah Kh-22, yang dimana rudal tersebut merupakan jenis yang sama dengan rudal yang menghantam pusat perbelanjaan di Ukraina tengah musim panas lalu.
Kh-22 “ditembakan dari pesawat pengebom jarak jauh Tu-22M3, diluncurkan dari daerah dekat Kursk dan Laut Azov,” ujar Yurii Ihnat, selaku juru bicara angkatan udara Ukraina. Ihnat menambahkan, “ada total lima peluncuran rudal ini.”
Seorang pejabat mengatakan bahwa, rudal dan ledakan juga terdengar di beberapa wilayah seperti Lviv di barat, Kharkiv di timur laut, Zaporizhzhia dan Dnipro di tenggara, Myokaliv di selatan, dan Kharkiv di timur laut.
Pihak berwenang di Kyiv, menyampaikan bahwa ada “serangan terhadap ibu kota.” Menurut Oleksiy Kuleba, kepala administrasi militer wilayah Kyiv, ledakan terdengar sejak pukul 6 pagi waktu setempat. Walikota Vitaliy Klitschko mengungkapkan bahwa serangan telah menghantam tepi timur kota, yang merupakan tempat dari beberapa fasilitas listrik.
Tetapi, Oleksandr Pavliuk, selaku komandan dari tentara Ukraina di Kyiv, menyatakan bahwa ledakan di Kyiv tidak disebabkan oleh serangan Rusia. “Ledakan-ledakan itu tidak terkait dengan ancaman dari udara atau pertahanan udara, serta dengan tindakan militer apa pun,” ujar Pavliuk melalui Telegram. “Jika ada anacaman, anda akan mendengar alarm. Penyebab ledakan akan dilaporkan secara terpisah.”






