Korea Utara luncurkan dua rudal balistik jarak pendek ke perairan di lepas pantai timur wilayahnya, yang dimana peluncuran itu merupakan unjuk kekuatan kedua dalam minggu ini. Peluncuran itu dilakukan pada saat Korea Selatan bersama dengan Amerika Serikat tengah melaksanakan latihan militer terbesarnya dalam beberapa tahun terakhir.
Dilansir dari Aljazeera.com, menurut Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS), rudal-rudal itu diluncurkan pada pukul 7.41 waktu setempat, pada hari Selasa pagi.
JCS memberikan sebuah pernyataan bahwa, “militer kami telah memperkuat pengawasan dan kewaspadaan dalam persiapan untuk peluncuran tambahan, sambil mempertahankan postur kesiapan penuh melalui kerja sama yang erat antara Korea Selatan dan Amerika Serikat.”
Fumio Kishida, yang merupakan Perdana Menteri Jepang, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengumpulkan informasi terkait rudal itu.
Peluncuran yang dilakukan oleh Pyongyang ini merupakan uji coba kedua dalam kurun waktu tiga hari dan diluncurkan ketika Amerika Serikat dan Korea Selatan tengah melakukan latihan militer berskala besar ‘Perisai Kebebasan’, yang dikabarkan akan berlangsung hingga 23 Maret mendatang.

Pelatihan ini merupakan pelatihan pertama kali yang diadakan oleh kedua negara tersebut, dan Korea Utara melihat latihan itu sebagai latihan untuk invasi, sejak tahun 2018.
Dilaporkan pada Minggu malam, Korea Selatan mengungkapkan bahwa pihaknya telah mendeteksi adanya peluncuran kapal selam, dan media pemerintah Korea Utara menyatakan di hari berikutnya bahwa Korea utara telah melakukan uji coba peluncuran dari apa yang mereka sebut sebagai dua rudal jelajah strategis yang ditembakkan dari kapal selam.
Pemimpin Kim Jong Un, pada awal bulan memberikan perintah kepada militernya untuk mengintensifkan latihan agar mampu untuk menangkal dan merespons “perang sungguhan” apabila diperlukan.
Korea Utara diketahui telah melakukan uji coba terhadap lebih dari 70 rudal miliknya di tahun 2022, termasuk rudal balistik antarbenua yang berpotensi untuk mencapai daratan Amerika Serikat dan rudal jarak pendek dengan kemampuan nuklir yang mampu untuk menargetkan Korea Selatan.
Amerika Serikat bersama dengan Korea Selatan mengumumkan bahwa di dalam latihan Perisai Kebebasan ini memiliki fokus pada “lingkungan keamanan yang berubah” dikarenakan agresi dari Korea Utara yang berlipat ganda, serta akan “melibatkan prosedur masa perang untuk menangkis potensi serangan Korea Utara dan melakukan kampanye stabilisasi di Korea Utara”.
Pihak sekutu telah menegaskan bahwa latihan ini adalah latihan “defensif berdasarkan rencana operasional gabungan”.






