Badai Tropis Freddy, Salah Satu Badai Terkuat Yang Menewaskan Lebih Dari 100 Orang di Mozambik dan Malawi

Freddy merupakan salah satu badai terkuat yang pernah tercatat di belahan bumi bagian selatan dan kemungkinan menjadi badai tropis terlama yang mampu bertahan. (Photo: Reuters/NASA via CNN)
0 0
Read Time:2 Minute, 7 Second

Pada hari Senin, Mozambik dan Malawi melakukan perhitungan terkait kerugian yang diakibatkan oleh Badai Tropis Freddy, yang dimana badai tersebut telah menewaskan lebih dari 100 orang, serta melukai beberapa orang ketika badai ini menerjang bagian selatan Afrika untuk kedua kalinya dalam satu bulan.

Dilansir dari nbcnews.com, menurut Organisasi Meteorologi Dunia, Freddy merupakan salah satu badai terkuat yang pernah tercatat di belahan bumi bagian selatan dan kemungkinan menjadi badai tropis terlama yang mampu bertahan.

Diketahui Badai Tropis Freddy telah menghantam wilayah Mozambik tengah pada hari Sabtu, menghancurkan atap-atap bangunan dan mengakibatkan banjir besar di sekitar pelabuhan Quelimane, sebelum akhirnya bergerak menuju wilayah Malawi beserta hujan lebat yang mengakibatkan tanah longsor.

Tingkat kerugian dan kerusakan, serta jumlah korban jiwa di wilayah Mozambik masih belum jelas, dikarenakan persediaan listrik dan sinyal telepon terputus di beberapa wilayah yang terdampak.

Charles Kalemba, selaku komisaris Departemen Urusan Manajemen Bencana, memberikan pernyataan dalam sebuah konferensi pers bahwa badai Freddy ini telah menyebabkan tewasnya 99 orang di Malawi, termasuk 85 orang di pusat komersial utama Blantyre.

Badai Tropis Freddy telah menghantam wilayah Mozambik tengah pada hari Sabtu, menghancurkan atap-atap bangunan dan mengakibatkan banjir besar di sekitar pelabuhan Quelimane. (Photo: Reuters/UNICEF Mozambique via CNN)

Jumlah keseluruhan korban tewas akibat badai Freddy yang melanda Mozambik, Malawi, dan Madagaskar sejak badai ini pertama kali mendarat pada bulan lalu adalah sekitar 136 orang.

Direktur negara dari organisasi Doctors Without Borders (MSF), Marion Pechayre, mengatakan kepada media berita Reuters melalui telepon bahwa rumah sakit pusat di wilayah Blantyre, dilaporkan telah menerima sekitar 60 mayat pada sore hari. Pechayre juga menambahkan bahwa sekitar 200 orang terluka tengah dirawat di rumah sakit itu.

Pechayre mengungkapkan bahwa luka-luka tersebut disebabkan oleh pohon tumbang, tanah longsor, dan banjir bandang. “Banyak (rumah) yang terbuat dari lumpur dengan atap seng, sehingga atapnya menimpa kepala orang,” ungkap Pechayre.

Peter Kalaya, yang merupakan juru bicara kepolisian, menyampaikan kepada Reuters bahwa para anggota tim penyelamat telah dikerahkan untuk mencari warga-warga yang berada di Chilobwe dan Ndirande, yang dimana dua kota tersebut merupakan kota yang paling terdampak di wilayah Blantyre.

Diketahui Blantyre adalah kota terbesar kedua di negara itu, dan dikabarkan hujan masih mengguyur wilayah tersebut pada hari Senin, membuat para penduduk hidup tanpa listrik. Kalaya mengatakan, “beberapa orang yang hilang dikhawatirkan tertimbun reruntuhan.”

EGENCO, selaku perusahaan listrik nasional di Malawi, mengungkapkan bahwa kapasitas dari pembangkit listrik saat ini sedang tidak stabil dan telah mengalami pemadaman total sekitar dua kali di hari Senin. EGENCO dikabarkan telah menutup seluruh pembangkit listrik tenaga air utama untuk melindungi mereka dari kerusakan yang lebih parah.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today