Pada hari Kamis, Yoon Suk Yeol, yang merupakan Presiden Korea Selatan, telah tiba di Jepang untuk menghadiri sebuah pertemuan KTT, yang dimana pertemuan tersebut merupakan kunjungan pertama kali Yoon dalam 12 tahun terakhir.
Pertemuan itu dilakukan sebagai upaya dari kedua negara tetangga itu untuk menghadapi ancaman yang meningkat dari Korea Utara dan meningkatnya kekhawatiran terhadap China.
Dilansir dari edition.cnn.com, tantangan keamanan bersama itu terlihat hanya beberapa jam sebelum perjalanan dilakukan, pada saat Korea Utara meluncurkan rudal balistik jarak jauh ke perairan di lepas pantai timur Semenanjung Korea, sebuah peluncuran balistik antarbenua keempat yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.
Hirokazu Matsuno, selaku Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, mengutuk peluncuran rudal yang dilakukan oleh Korea Utara dan menyebutnya sebagai “tindakan sembrono” yang dapat “mengancam perdamaian dan keamanan negara kita, kawasan, dan komunitas internasional.”

Pertemuan antara Yoon dengan Fumio Kishida, selaku Perdana Menteri Jepang, adalah sebuah langkah penting yang dilakukan untuk memperbaiki hubungan yang telah rusak setelah beberapa puluh tahun mengalami perselisihan dan ketidakpercayaan antara kedua negara sekutu Amerika Serikat di Asia.
Pihak dari Yoon telah memberikan pujian terkait hal tersebut dan menyebutnya sebagai “tonggak penting” dalam pengembangan hubungan bilateral. Diketahui kedua negara tetangga di Asia Timur ini mempunyai sejarah panjang yang dipenuhi oleh ketegangan, yang dimana ketegangan ini dimulai sejak pendudukan kolonial Jepang di Semenanjung Korea sekitar 100 tahun yang lalu.
Korea Selatan dan Jepang mulai untuk menormalkan hubungan mereka pada tahun 1965, namun, perselisihan sejarah yang belum terselesaikan terus meningkat, terutama permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan kerja paksa oleh Jepang di masa penjajahan dan apa yang disebut sebagai “wanita penghibur” atau budak seks.
Dengan adanya ketegangan hubungan antar kedua negara tersebut, dalam beberapa tahun terakhir ini telah menghancurkan upaya dari Amerika Serikat untuk membentuk sebuah front persatuan untuk melawan Korea Utara dan ketegasan Beijing yang meningkat.
Namun, saat ini kedua negara sekutu Amerika Serikat di wilayah tersebut, sepertinya sudah siap untuk menjalin kembali hubungan bilateral dan membuka lembaran baru.
Sebelum melakukan perjalanan ke Tokyo, pada hari Rabu, Yoon sempat menyampaikan kepada media internasional bahwa “ada kebutuhan yang semakin meningkat bagi Korea dan Jepang untuk bekerja sama di masa polikrisis ini,” mengutip terkait ancaman nuklir serta rudal milik Korea Utara dan terganggunya rantai persediaan global.
Yoon mengatakan, “kita tidak bisa mebuang-buang waktu dan membiarkan hubungan Korea-Jepang yang tegang tanpa pengawasan.”






