PT Indonesia Air Transport (IAT) mengumumkan jumlah kru pesawat ATR 42-500 yang jatuh pada Sabtu (17/1/2026) di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Menurut Tri Adi Wibowo, Direktur Utama PT IAT, tujuh kru pesawat sedang bertugas dalam penerbangan tersebut.
Ini menunjukkan bahwa jumlah kru yang bertugas tidak sama dengan delapan orang yang tercantum dalam Manifest Passenger yang beredar.
“Saya menginformasikan, dari PT Indonesia Air Transport karifikasi bahwa kru yang on-board ada tujuh,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Mina Bahari IV KKP, Jakarta, Sabtu (17/1/2026).
Daftar nama kru Indonesia Air Transport berbeda
Tri menyebutkan nama-nama anggota krunya: Andi Dahananto, Muhammad Farhan Gunawan, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, Esther Aprilita, dan satu lagi yang tidak disebutkan namanya.
Hanya Andi Dahananto, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita yang disebutkan di manifest, dan nama-nama ini berbeda dengan yang disebutkan di atas.
Meskipun Tri tidak menyebutkan nama-nama kru, manifest mengandung nama-nama seperti Yudha Mahardika, Sukardi, Hariadi, Franky D Tanamal, dan Junaidi. Namun, Tri tidak menjelaskan mengapa nama kru yang bertugas berbeda dengan nama yang ada di Passenger Manifest.
Sebab Kapten Sukardi tidak hadir dalam penerbangan, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F. Laisa sebelumnya juga menyatakan bahwa ada 10 kru dan penumpang dalam pesawat ATR 42-500.
“Confirm Capt. Sukardi tidak on board, sehingga POB hanya 10 orang. Sesuai informasi dari operator pesawat IAT,” ujar Lukman saat dikonfirmasi Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).
Nama Tiga Penumpang
Selain tujuh awak IAT, tiga staf dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hadir dalam penerbangan tersebut.
Nama-nama pegawai tersebut disebutkan oleh Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono. Mereka adalah Analis Kapal Pengawas Ferry Irawan, Pengelola Barang Milik Negara Deden Mulyana, dan Operator Foto Udara Yoga Naufal.

Untuk mengawasi sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara, ketiga pegawai itu melakukan penerbangan di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia.
“Terkait adanya informasi yang beredar di masyarakat mengenai logo Kementerian Kelautan Perikanan, yang perlu kami sampaikan bahwa benar terdapat pegawai KKP dalam pesawat tersebut,” kata Sakti pada kesempatan yang sama.
Namun, hingga saat ini, pihaknya belum memperoleh informasi lebih lanjut tentang kondisi penumpang dan alasan pesawat kehilangan kontak pada penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta ke Bandara Sultan Hasanuddin Makassar siang tadi.
Saat ini, pencarian pesawat tersebut masih dilakukan oleh Tim SAR Gabungan. KKP terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memantau perkembangan pencarian pesawat tersebut.
“KKP tentu telah dan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memantau perkembangan pencarian pesawat air surveillance tersebut. terkait hal pencarian dan menyebabkan insiden, kami serahkan seluruhnya kepada Basarnas, KNKT, dan Kementerian Perhubungan,” tuturnya.






