Gelombang Protes Peru Menuntut Dina Bolartue Segera Mundur

peru telah mengalami krisis politik yang menyebabkan kerusuhan diberbagai titik kota. (Photo : Lucas Aguayo Araos)
0 0
Read Time:2 Minute, 9 Second

Dalam beberapa dekade terakhir, peru telah mengalami krisis politik yang menyebabkan kerusuhan diberbagai titik kota.

Demonstrasi yang terjadi belakangan ini dipicu oleh penggulingan mantan Presiden Pedro Castillo bulan lalu, bentrokan yang terjadi antara warga dan peasukan keamanan menimbulkan puluhan orang tewas selama beberapa minggu terakhir.

Gelombang protes besar terjadi di bagian selatan negara, wilayah ini juga termasuk yang termiskin di negaranya.

Berada di sekitar pegunungan Andes dengan ketinggian lebih dari sepuluh ribu kaki di atas permukaan laut.

Disana juga terdapat beberapa situs arkeologi terkenal di peru seperti reruntuhan kuno Machu Picchu dan kota Cusco.

Beberapa hari terakhir, pengunjuk rasa dari daerah ini dan pedasaan lainnya di Peru melakukan perjalananan menuju ibu kota, Lima.

Selama berhari-hari mereka menyampaikan keluhannya kepada para pejabat dan menuntut agar presiden yang sekarang, Dina Bolartue segera mundur dari jabatannya.

Demonstrasi yang terjadi belakangan ini dipicu oleh penggulingan mantan Presiden Pedro Castillo bulan lalu, bentrokan yang terjadi antara warga dan peasukan keamanan menimbulkan puluhan orang tewas. (Photo : Lucas Aguayo Araos)

Berdasarkan survey yang dilakukan Univeritas Vanderbilt, mengungkapkan bahwa hanya 21% warga yang menyatakan puas dengan demokrasi negaranya.

Hal ini adalah yang paling sedikit dibandingkan dengan negara-negara lain di Amerika Latin dan Karibia, kecuali haiti Sumber utama ketidakpuasan masyarakat adalah meluasnya persepsi tentang korupsi, ketidakadilan, ketidakefektifan, dan pengabaian pemerintah.

Seiring tingkat keamanan, keadilan, pendidikan, dan layanan dasar lainnya juga terus mengalami penurunan yang mengakibatkan persepsi kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga semakin terkikis.

Ditambah, pandemi Covid-19 hanya memperburuk kelemahan struktural di inti masyarakat Peru.

Ketika banyak untuk mengatasi dampak ekonomi yang melemah akibat diberlakukannya karantina wilayah.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari separuh penduduk Peru tidak memiliki akses ke makanan yang cukup selama bulan-bulan pandemi Covid-19, ketika virus ini melanda negara tersebut.

Data dari Johns Hopkins University juga menunjukkan bahwa Peru mencatat angka kematian per kapita tertinggi di dunia akibat virus corona.

Survey yang dilakukanoleh IEP pada September 2022 menunjukkan bahwa 84% warga Peru tidak menyetujui kinerja Kongres.

Para anggota parlemen dianggap tidak hanya mengejar kepentingan mereka sendiri di Kongres, tetapi juga dikaitkan dengan praktik korupsi.

Rasa frustrasi masyarakat Peru telah tercermin dalam sistem kepresidenan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Presiden Bolivar saat ini adalah kepala negara keenam dalam kurun waktu kurang dari lima tahun.

Pendahulunya, Castillo, naik ke tampuk kekuasaan pada pemilihan umum tahun 2021, dengan gaya sebagai orang yang merakyat dan akan membawa perubahan bagi negaranya.

Namun, polarisasi dan kekacauan yang melingkupi masa kepresidenannya termasuk tuduhan korupsi dan berbagai upaya pemakzulan oleh Kongres, yang dibantah oleh Castillo sebagai hal yang bermotif politik hanya memperparah ketegangan yang sudah ada sebelumnya. (Rifaldi Chandradinata)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today