Setelah Adanya Pengurangan Produksi OPEC Yang Mengejutkan, Harga Minyak Melambung Tinggi

Harga minyak melambung tinggi setelah Arab Saudi dengan produsen OPEC+ lainnya menyampaikan terkait adanya pengurangan produksi yang mengejutkan. (Photo: OilPrice.com)
0 0
Read Time:1 Minute, 54 Second

Dilaporkan bahwa harga minyak melambung tinggi setelah Arab Saudi dengan produsen OPEC+ lainnya menyampaikan terkait adanya pengurangan produksi yang mengejutkan.

Hal tersebut menjadi sebuah pertanda yang memiliki potensi buruk bagi inflasi global, beberapa hari setelah adanya perlambatan harga Amerika Serikat yang memberikan dorongan terhadap optimisme pasar

Dilansir dari Aljazeera.com, harga minyak Brent melambung dari yang sebelumnya sebesar Rp 73.238 menjadi sekitar Rp 1.2 juta per barel, pada saat kemunculan berita bahwa produksi akan dikurangi sekitar 1,16 juta barel per hari, sedangkan untuk kenaikan harga minyak mentah milik Amerika Serikat yang sebelumnya sebesar Rp 62.454 menjadi sekitar Rp 1,1 juta.

Perubahan tersebut terjadi sebelum digelarnya pertemuan virtual panel menteri OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia. Vivek Dhar, yang merupakan seorang analis energi di CBA, mengatakan bahwa, “keterlibatan anggota-anggota OPEC+ terbesar menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap pemangkasan produksi mungkin lebih kuat dibandingkan dengan yang terjadi di masa lalu.”

Ia juga menambahkan, “ini berarti bahwa pasar minyak berpotensi melihat sekitar 1 persen dari pasokan minyak global atau lebih dikurangi dari bulan mei.”

Perubahan tersebut terjadi sebelum digelarnya pertemuan virtual panel menteri OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia. (Photo: Shutterstock via OilandGasMiddleEast.com)

Pada hari Minggu, kepala perusahaan investasi Pickering Energy Partners, memberikan sebuah pernyataan bahwa dengan adanya pengurangan terbaru ini, dapat menaikkan harga minyak sekitar Rp 149,7 ribu per barel.

Goldman Sachs, diketahui telah memberikan kenaikan terhadap proyeksi harga minyak Brent sekitar Rp 1,42 juta per barel pada akhir tahun ini dan menjadi sekitar Rp 1,49 pada tahun 2024.

Goldman Sachs mengungkapkan, “pemangkasan mengejutkan hari ini konsisten dengan doktrin OPEC+ yang baru untuk bertindak lebih dulu karena mereka dapat melakukannya tanpa kehilangan pangsa pasar yang signifikan.”

“Meskipun mengejutkan, pemangkasan ini mencerminkan pertimbangan-pertimbangan ekonomi yang penting dan kemungkinan besar pertimbangan-pertimbangan politik,” tambahnya.

Peningkatan biaya energi ini diperkirakan telah membayangi pembacaan yang lebih lambat pada hari Jumat terhadap inflasi inti Amerika Serikat, yang dimana membuat Wall Street mengakhiri bulan dengan catatan yang kuat. Seluruh bank sentral di Australia dan Selandia Baru, diketahui telah menggelar pertemuan kebijakan di minggu ini.

Dikabarkan pasar telah bertaruh bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) akan memberhentikan kampanye pengetatannya pada saat setelah mengalami 10 kali kenaikan secara berturut-turut, walaupun para analis lebih terpecah terkait apakah RBA masih akan mengalami kenaikan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Visited 1 times, 1 visit(s) today